
Rowhani Harapkan Iran dan Kekuatan Barat Capai Kesepakatan

Teheran, (Antara/AFP) - Presiden terpilih Hassan Rowhani menyampaikan harapannya pada Senin bahwa Iran dapat mencapai satu persetujuan baru dengan kekuatan-kekuatan internasional mengenai program nuklirnya dengan mengatakan satu perjanjian hendaknya dicapai melalui transparansi dan saling percaya. Rowhani, ulama moderat yang dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan presiden Iran pada Sabtu mengakhiri pemerintahan konservatif selama delapan tahun, juga melukiskan sanksi-sanksi yang diberlakukan terhadap Iran terkait isu nuklir itu tidak adil dan tak dapat dibenarkan. Kemenangan tokoh yang berusia 64 tahun itu meningkatkan harapan-harapan akan redanya hubungan yang renggang antara Iran dan negara-negara Barat tetapi dia menggunakan jumpa pers pertamanya pada Senin untuk menepis akan ada penghentian pengayaan uranium yang menimbulkan kontroversi. "Periode ini sudah berakhir," kata Rowhani, merujuk pada tuntutan internasional bagi penghentian program pengayaan uranium Iran. Ada banyak jalan membangun kepercayaan dengan Barat, katanya, karena Iran akan lebih transparan menunjukkan bahwa aktivitasnya sesuai dengan kerangka kerja peraturan-peraturan internasional. Rowhani sebelumnya bertekad memulihkan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, yang memutuskan hubungan setelah penguasaan Kedutaan Besar AS oleh para mahasiswa tahun 1979. Kemenangannya dibantu oleh kubu reformis dan hasil pemilihan Jumat disambut baik oleh ribuan orang yang turun ke jalan-jalan. Teheran telah terlibat bersama dengan kelompok P5+1 yakni para anggota tetap Dewan Keamanan PBB: Inggris, China, Prancis, Rusia, Amerika serikat plus Jerman sejak tahun 2006 mengenai program nuklirnya. Tapi belum juga ada terobosan setelah mereka mengadakan beberapa pertemuan. Kegagalan mencapai satu kesepakatan dalam negosiasi-negosiasi telah membuat Republik Islam itu diterpa sanksi-sanksi internasional yang mengganggu ekonominya. "Ancaman dan sanksi tidak efektif," katanya kepada wartawan Senin. "Sanksi-sanksi itu tak adil, rakyat Iran menderita dan kegiatan (nuklir) kami legal. Sanksi-snaksi ini illegal dan hanya menguntungkan Israel," kata Rowhani, yang akan menggantikan Presiden Mahmoud Ahmadinejad pada awal Agustus. Negara-negara Barat dan Israel yakin program itu sedang digunakan untuk membangun satu bom atom tetapi Teheran selalu menyatakan bahwa program itu bertujuan untuk makssud-maksud damai. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
