Logo Header Antaranews Sumbar

Menkeu: CAD Lebih Rendah Pada Triwulan III

Senin, 2 September 2013 20:23 WIB
Image Print
Menteri Keuangan Chatib Basri. (Antara)

Jakarta, (Antara) - Menteri Keuangan Chatib Basri mengaku optimistis bahwa defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang sekarang ini meningkat akan menjadi lebih rendah pada triwulan ke tiga, karena efek kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Saya percaya 'current account deficit' kita hingga akhir tahun sekitar tiga hingga empat persen dari PDB (produk domestik bruto,red). Pokoknya CAD pada triwulan ke tiga itu akan lebih rendah dari CAD pada triwulan ke dua," kata Chatib di Jakarta, Senin. Hal itu disampaikan usai Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR RI dalam rangka Pembicaraan Tingkat I/Pembahasan RUU tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN 2012. Menurut dia, perkiraan semakin membaiknya kondisi CAD Indonesia pada triwulan III itu diduga sebagai efek positif dari kenaikan harga BBM yang sudah akan terlihat pada beberapa bulan mendatang. Terkait data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan defisit neraca perdagangan pada Juli 2013 sebesar 2,31 miliar dolar AS yang disebabkan masih tingginya impor komoditi migas, Menkeu mengatakan efek dari kenaikan harga BBM belum dapat terlihat hanya dalam waktu satu bulan. "Yang baru diumumkan oleh BPS tadi kan angka defisit transaksi berjalan pada Juli, sedangkan efek dari kenaikan harga BBM belum bisa terlihat dalam satu bulan," ujarnya. "Karena sederhana saja, harga BBM itu dinaikkan pada 22 Juni, dan kalau untuk impor kan sudah ada kontrak yang tidak akan hilang dalam satu bulan. Namun, kalau sudah dua atau tiga bulan ke depan, saya rasa dampak positif kenaikan harga BBM bersubsidi akan mulai terlihat," kata Chatib. Oleh karena itu, dia menekankan semua pihak untuk tidak melihat tren defisit transaksi berjalan hanya per bulan, melainkan per triwulan. "Itu sebabnya saya selalu mengatakan untuk melihat CAD pada triwulan III karena kalau lihat per bulan saya kira itu terlalu pendek untuk bisa lihat respon," katanya. Walaupun demikian, Menkeu meyakini gejala penurunan konsumsi BBM sudah mulai terlihat sejak Juli karena beberapa data yang diterima Kementerian Keuangan menujukkan bahwa konsumsi minyak pada Juli sudah mulai berkurang. Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan defisit neraca perdagangan pada Juli 2013 tercatat 2,31 miliar dolar AS, yang disebabkan masih tingginya impor komoditi migas. "Defisit nilai perdagangan tersebut disebabkan oleh defisit komoditi migas sebesar 1,86 miliar dolar AS dan komoditi nonmigas sebesar 0,45 miliar dolar AS," kata Suryamin. Ia mengatakan defisit nilai perdagangan pada Juli 2013 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, atau naik 163,26 persen. Namun volume perdagangan mengalami surplus 42,87 juta ton. "Volume perdagangan migas mengalami defisit 1,34 juta ton, namun volume non migas pada Juli 2013 mengalami surplus 44,21 juta ton," ujarnya. Dengan demikian, secara kumulatif defisit neraca perdagangan Januari-Juli 2013 mencapai 5,65 miliar dolar AS, karena ekspor tercatat sebesar 106,18 miliar dolar AS dan impor mencapai 111,83 miliar dolar AS. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026