Logo Header Antaranews Sumbar

TPID Sumbar berupaya jaga inflasi tetap terkendali

Rabu, 3 Agustus 2022 13:29 WIB
Image Print
Kepala BI perwakilan Sumbar Wahyu Purnama. (Antara/Ikhwan Wahyudi)

Padang (ANTARA) - Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat terus berupaya menjaga inflasi di daerah itu tetap terkendali di tengah momentum pemulihan ekonomi yang sebelumnya terdampak pandemi COVID-19.

"Pada Juli 2022 Sumbar mengalami inflasi 1,22 persen atau meningkat dibandingkan Juni yang hanya 1,18 persen disumbang oleh kenaikan harga komoditas pertanian yaitu cabai," kata Kepala Bank Indonesia perwakilan Sumbar Wahyu Purnama di Padang, Rabu.

Menurut dia upaya yang dilakukan TPID agar inflasi tetap terkendali mulai dari penyelenggaraan bazar cabai merah selama Juli 2022 oleh Toko Tani Indonesia Centre (TTIC) untuk menekan harga komoditas cabai merah di Sumatera Barat.

Tidak hanya itu pihaknya juga menggelar operasi pasar murah di kabupaten dan kota.

Kemudian melakukan optimalisasi Mobil Box Keliling TTIC ke kelurahan di Kota Padang dan Kota Bukittinggi untuk memastikan kelancaran distribusi dan memasok komoditas pangan dengan harga murah.

Ia berharap ke depan sinergi dan koordinasi TPID Provinsi dengan TPID kabupaten/kota di Sumatera Barat dengan Pemerintah Pusat dapat terus ditingkatkan dalam rangka pengendalian inflasi.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik Sumatera Barat merilis indeks harga konsumen di Sumbar mengalami inflasi 1,22 persen pada Juli 2022.

Inflasi bersumber dari komoditas cabai merah, air kemasan, dan bawang merah.

Komoditas cabai merah tercatat mengalami inflasi disebabkan oleh terbatasnya jumlah pasokan karena penurunan produktivitas dan gagal panen akibat cuaca.

Curah hujan yang tinggi mengakibatkan hasil panen terganggu di Sumatera Barat dan di luar Sumatera Barat.

Air kemasan mengalami kenaikan harga di tingkat produsen akibat meningkatnya biaya produksi.

Sementara bawang merah mengalami inflasi akibat keterbatasan pasokan akibat curah hujan yang tinggi dan belum masuknya masa panen di sentra produksi di Sumatera Barat maupun di luar Sumbar.

Selain itu angkutan udara juga menyumbang inflasi di Sumbar akibat peningkatan harga avtur sebagai bahan bakar pesawat dan peningkatan permintaan pada periode liburan sekolah di tengah tidak adanya pembatasan mobilitas.

Sebelumnya Kepala BPS Sumbar Herum Fajarwati menyampaikan penyebab utama kenaikan harga cabai merah karena terbatasnya stok yang ada dan pada sisi lain permintaan cukup tinggi.

"Apalagi saat ini produksi cabai tidak sebanyak bulan sebelumnya, pada sisi lain budaya masyarakat yang terbiasa mengonsumsi cabai, kalau tidak pakai cabai tak makan rasanya," ujarnya.

Selain itu BPS menemukan perbedaan pola konsumsi cabai antara kota Padang dengan Bukittinggi.

"Dari sisi andil penyumbang inflasi lebih tinggi di Padang," kata dia.

Kemudian dari sisi jenisnya cabai merah yang dikonsumsi di Padang lebih dominan berasal dari Pulau Jawa.

"Sedangkan di Bukittinggi lebih banyak mengonsumsi cabai kampung atau lokal," katanya.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026