Logo Header Antaranews Sumbar

Misi UAE di Libya Diserang Roket

Jumat, 26 Juli 2013 05:59 WIB
Image Print

Tripoli, (Antara/AFP) - Sejumlah penyerang tak dikenal menembakkan sebuah roket ke Kedutaan Besar Uni Emirat Arab (UAE) di Tripoli, Kamis, yang mengakibatkan kerusakan kecil namun tidak ada korban, kata Kementerian Dalam Negeri Libya. "Sebuah RPG (granat roket) ditembakkan ke bangunan itu, yang menimbulkan kerusakan kecil," kata juru bicara kementerian itu Rami Said, dengan menambahkan bahwa tidak ada yang terluka dalam insiden tersebut. Serangan terhadap Kedubes UAE di daerah Al-Siyahia Tripoli itu terjadi sekitar pukul 05.30 waktu setempat (pukul 10.30 WIB), kata Said, seperti dikutip oleh Kantor Berita Libya Lana. Ia menambahkan, duta besar UAE saat ini sedang berada di luar Libya. Sejumlah saksi menuturkan, para penyerang yang datang dengan sebuah mobil melarikan diri setelah menembakkan RPG ke kompleks tempat kedutaan dan kediaman duta besar. Serangan Kamis terhadap misi UAE itu merupakan yang terakhir dari serangkaian serangan terhadap kedutaan dan diplomat asing di Libya. Selasa, sebuah roket menghantam blok apartemen di Tripoli namun tidak ada korban. Bangunan itu terletak di kawasan penduduk di ibu kota Libya tersebut, antara hotel Corinthia dan sebuah gedung menara yang menjadi tempat kedutaan-kedutaan besar Inggris, Kanada dan Malta, serta perusahaan asing. Pada 23 April, serangan bom mobil bunuh diri terhadap Kedutaan Besar Prancis di Tripoli mencederai dua penjaga Prancis. Serangan paling berani terjadi pada 11 September tahun lalu ketika konsulat AS di kota wilayah timur, Benghazi, diserbu oleh militan yang menewaskan Duta Besar Chris Stevens dan tiga warga lain Amerika. Pemerintah baru Libya hingga kini masih berusaha mengatasi banyaknya individu bersenjata dan milisi yang memperoleh kekuatan selama konflik bersenjata yang menggulingkan Muamar Gaddafi. Gaddafi (68), pemimpin terlama di dunia Arab dan telah berkuasa selama empat dasawarsa dan bersikeras akan tetap berkuasa meski ia ditentang banyak pihak, diumumkan tewas oleh kelompok pemberontak Dewan Transisi Nasional (NTC) pada 20 Oktober 2011. NTC, yang memelopori pemberontakan untuk menggulingkan pemerintah Gaddafi, mendeklarasikan "pembebasan" Libya tiga hari setelah penangkapan dan pembunuhan orang kuat itu pada 20 Oktober. Selama konflik, dewan itu mengatur permasalahan kawasan timur Libya yang dikuasai pemberontak dan melobi keras untuk pengakuan diplomatik dan perolehan dana untuk mempertahankan perjuangan berbulan-bulan dengan tujuan mendongkel kekuasaan Gaddafi. Benghazi, tempat lahirnya pemberontakan anti-pemerintah yang menggulingkan rejim Muamar Gaddafi, dilanda pemboman dan serangan-serangan terhadap aparat keamanan dan juga konvoi serta organisasi internasional dan beberapa misi Barat. Pihak berwenang menyalahkan kelompok garis keras atas kekerasan itu, termasuk serangan mematikan pada September terhadap Konsulat AS di Benghazi yang menewaskan Duta Besar Chris Stevens dan tiga warga lain Amerika. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026