
BMKG: Cuaca Sumsel Berawan hingga Hujan Sedang

Palembang, (Antara) - Cuaca di 15 kabupaten dan kota wilayah Provinsi Sumatera Selatan diprakirakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika setempat berawan hingga berpotensi hujan dengan intensitas sedang. "Berdasarkan pengamatan melalui satelit cuaca, tiga kota diprakirakan berawan, 11 kota hujan ringan, dan satu kota lainnya berpotensi hujan sedang," kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Sumsel, Indra Purnama di Palembang, Kamis. Menurutnya, ketiga kota di Sumsel yang diprakirakan kondisi cuacanya berawan yakni Kota Pagaralam, Tebingtinggi, dan Lubuklinggau. Sedangkan ke-11 kota yang diprakirakan berpotensi hujan ringan yakni Palembang, Indralaya, Prabumulih, Baturaja, Muara Enim, Lahat, Musirawas, Sekayu, Pangkalanbalai, Martapura, dan Muaradua, kemudian satu kota yang berpotensi hujan sedang yakni Kota Kayu Agung, katanya. Beberapa kota yang diprakirakan berawan memiliki suhu udara berkisar 23 hingga 32 derajat Celcius, kelembaban udara berkisar 64 hingga 97 persen, kecepatan angin sekitar 25 kilometer per jam dengan arah angin sebagian besar menuju barat daya kecuali Kota Tebingtinggi arah angin daerah ini menuju selatan. Kota yang diprakirakan mengalami hujan ringan memiliki suhu udara berkisar 23 hingga 33 derajat Celcius, kelembaban udara berkisar 63 hingga 97 persen, kecepatan angin berkisar 25 hingga 30 km/jam dengan arah angin sebagian besar menuju selatan kecuali Kota Musirawas, dan Muaradua, arah angin daerah ini menuju barat daya. Sedangkan kota yang berpotensi hujan sedang memiliki suhu udara berkisar 23 hingga 33 derajat Celcius, kelembaban udara berkisar 64 hingga 97 persen, kecepatan angin sekitar 30 km/jam dengan arah angin menuju selatan. Dijelaskannya, wilayah provinsi berpenduduk sekitar 8,6 juta jiwa itu masih banyak hujan pada bulan kedua musim kemarau atau Juli 2013 ini. Masih banyaknya hujan di provinsi ini dengan intensitas curah hujan hingga 151 milimeter, karena pada kemarau tahun ini terjadi fenomena la nina lemah dan dipole mode negatif serta hangatnya temperatur perairan Indonesia yang menyebabkan masih tersedianya uap air, ujar Indra. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
