
Kemenkeu: Inflasi Tinggi hingga Agustus

Jakarta, (Antara) - Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro memperkirakan laju inflasi masih tinggi hingga Agustus 2013, sebagai dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang terjadi pada minggu ketiga Juni. "Inflasi masih akan tinggi sampai Agustus, selain karena dampak langsung kenaikan harga BBM, juga karena faktor 'seasonal'" ujarnya di Jakarta, Senin. Bambang mengatakan inflasi Juni yang tercatat sebesar 1,03 persen merupakan angka yang sesuai perkiraan, karena kenaikan harga BBM bersubsidi mulai menyebabkan kenaikan harga pada tarif transportasi umum. "Ini sudah kami prediksikan, dampaknya (kenaikan harga BBM) tidak besar di Juni," katanya. Bambang optimistis pemerintah dapat mencapai target laju inflasi pada APBN-Perubahan 2013 yang ditetapkan sebesar 7,2 persen (year on year), dengan menjaga distribusi serta kestabilan pasokan bahan makanan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada Juni sebesar 1,03 persen. Dengan demikian, laju inflasi tahun kalender Januari-Juni 2013 mencapai 3,35 persen dan inflasi secara tahunan (yoy) 5,9 persen. BPS juga mencatat laju inflasi pada Juni 2012 mencapai 0,62 persen, pada Juli 2012 sebesar 0,7 persen dan pada Agustus 2012 sebesar 0,95 persen karena tingginya harga bahan makanan. Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan laju inflasi pada tahun ini bisa melonjak hingga 7,9 persen, akibat dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pekan lalu. Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan dampak langsung dan tidak langsung dari kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap inflasi sebesar 2,54 persen. "Jika upaya penanganan inflasi tidak maksimal, inflasi akhir tahun bisa sampai 7,6 persen, bahkan jika penanganannya gagal inflasi bisa mencapai 7,9 persen. Namun jika dampaknya bisa dikendalikan bisa turun ke 7,2 persen," katanya. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
