Logo Header Antaranews Sumbar

Arab Saudi Dinilai Taruh Harapan Pada Rohani

Jumat, 21 Juni 2013 05:53 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Direktur Eksekutif Komunitas Indonesia untuk Kajian Timur Tengah (ISMES), Hamdan Basyar, menilai Arab Saudi menaruh harapan kepada presiden baru Iran, Hassan Rohani, terkait dengan peningkatan hubungan kedua negara itu agar lebih bersahabat. "Pernyataan selamat dari Raja Abdullah dari Arab Saudi atas kemenangan Rohani memperlihatkan harapan mereka terhadap dia agar hubungan keduanya lebih bersahabat," kata Hamdan saat dihubungi Antara di Jakarta pada Kamis. Hamdan menilai bahwa pada saat ini, yang paling penting adalah menantikan tindakan nyata dan perwujudan sikap Rohani setelah pelantikannya pada Agustus mendatang. "Perlu ditunggu tindakan dan tindakan Rohani, termasuk cara dia menjalankan politik di tingkat regional maupun internasional. Dari beberapa komentar regional dan internasional, saya kira ada harapan bahwa Rohani membawa perubahan pendekatan," kata dia. "Secara regional, tantangan dia ialah menjalin hubungan lebih bersahabat dengan lingkungannya," kata Hamdan menambahkan. Meski diwarnai sejumlah perbedaan pendapat dalam beberapa persoalan kawasan dan dunia, Hamdan menilai bahwa hubungan diplomasi Arab Saudi dengan Iran selama ini tidak terlampau bermasalah. Hubungan pengekspor nomor satu minyak di dunia itu dengan Iran sebagai pesaing di kawasan tersebut memanas dalam berbagai masalah, misalnya, perang Suriah, tempat mereka mendukung pihak berbeda. Iran masih mendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, sementara Arab Saudi memberi dukungan kepada kelompok oposisi bersenjata. Selain itu, terdapat perbedaan sikap terkait keadaan politik tidak menentu di Bahrain. Arab Saudi menuduh Iran menimbulkan kekacauan di Bahrain, yang dipimpin kelompok Sunni, sedangkan kelompok Syiah, yang prodemokrasi, melancarkan protes. Iran membantah tudingan tersebut. Kemudian, Kerajaan Arab Saudi -yang didominasi Islam Sunni- menuduh Republik Islam tersebut ikut memanaskan kekacauan di antara kelompok kecil Syiah. Teheran juga membantah tuduhan tersebut. Selain itu, Arab Saudi tentu tidak lepas dari perselisihan terkait upaya Iran meningkatkan tenaga nuklir mereka. Pada Minggu malam, media resmi Arab Saudi melaporkan bahwa Raja mengirimkan kawat ucapan selamat dan mendoakan agar Rohani sehat dan bahagia serta rakyat Iran mengalami kemajuan mantap serta makmur. Di sisi lain, dalam pidato perdananya, Rohani pada pekan lalu menyatakan akan berusaha mengatasi hubungan sulit Iran dengan negara Teluk Persia, yang semakin tegang akibat kemelut Suriah. "Prioritas pemerintahan saya adalah memperkuat hubungan dengan tetangga negara Teluk Persia dan Arab sebagai saudara kami, yang penting dan strategis," kata dia. "Arab Saudi adalah saudara dan tetangga, tempat kami memiliki hubungan sejarah, budaya dan geografi," katanya menambahkan. Tapi, Rohani juga menyatakan tidak akan ada perubahan dalam persekutuan Iran dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Rohani terpilih menjadi presiden ke-8 Iran setelah menang 50,7 persen suara, jauh melampaui pesaing terdekatnya dari kubu konservatif. Kemenangan Rohani dalam pemilihan presiden itu juga ditandai dengan ketinggian tingkat peranserta rakyat Iran, yang mencapai 36,7 juta pemegang hak suara atau 72,7 persen pemilih. Hassan Rohani lahir pada 1948 di kota Sorkheh di Provinsi Semnan. Dia berasal dari keluarga lama dikenal karena berjuang melawan kekuasaan Shah. Rohani ikut menggalang tentara Iran dan terpilih menjadi anggota di Dewan Syura selama lima masa bakti antara 1980 hingga 2000 serta menjadi ketua dewan tersebut selama 16 tahun, 1989-2005. Rohani adalah penasehat Presiden Hashemi Rafsanjani dan Mohammad Khatami. Pada 2003, ia adalah wakil Iran untuk perundingan dengan Eropa mengenai nuklir Iran. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026