Logo Header Antaranews Sumbar

Merkel Cari Jawaban Soal Penyusupan Jaringan

Selasa, 18 Juni 2013 06:23 WIB
Image Print

Berlin, (Antara/AFP) - Kanselir Jerman Angela Merkel pada Senin menyatakan terkejut oleh kabar pengintaian maya besar-besaran oleh Amerika Serikat dan akan menyeru "keterbukaan" pada lingkupnya dalam pembicaraan dengan Presiden Barack Obama pada pekan ini. Merkel dalam wawancara dengan penyiaran niaga RTL memastikan bahwa dengan Obama, ia akan membahas masalah penyebab kegelisahan mendalam di Jerman itu, tempat kenangan akan Stasi Jerman Timur memata-matai warga masih kental. "Saya akan meminta lebih terbuka," kata Merkel, yang dibesarkan di komunis Timur. Ia berbicara menjelang pembukaan temu puncak G8 di Irlandia Utara pada Senin dan pembicaraan dengan Obama di Berlin pada Rabu. Ia menyatakan Jerman ingin tahu apakah data maya mereka diendus oleh Badan Keamanan Negara Amerika Serikat (NSA). "Harus jelas apa yang digunakan, apa yang tidak digunakan," katanya. Merkel mengatakan sangat terkejut oleh laporan tentang yang disebut program PRISM, dengan mengingatkan bahwa ia mengetahui dinas rahasia diperlukan untuk mengatasi ancaman terorisme dengan cara pengawasan abad ke-21. "Tapi, itu harus proporsional," katanya. Gedung Putih pada Jumat berusaha menenangkan ketakutan Jerman atas program rahasia pengawasan Internet itu, dengan menyatakan Obama akan memberitahu Merkel bahwa itu murni untuk menggagalkan serangan teror. Tapi, Ben Rhodes, wakil penasehat keamanan negara Amerika Serikat, dengan tegas mencatat bahwa Jerman pernah menjadi temppat beberapa pembajak, yang melancarkan serangan 11 September 2001. Di bawah program PRISM, yang menjadi perhatian dunia pada bulan ini, NSA dapat memerintahkan perusahaan Internet, seperti, Google dan Facebook, memberi jalan ke E-mail, obrolan maya, gambar, arsip dan video, yang diunggah pengguna asing. Eropa Bersatu menyampaikan kekhawatiran atas upaya itu dan memperingatkan dampak parah merugikan terhadap hak warga Eropa. Sementara itu, mingguan berita Jerman "Der Spiegel" melaporkan bahwa dinas sandi luar negeri negara itu (BND) merencanakan kegiatan 100 juta euro (1,3 miliar rupiah) untuk lima tahun ke depan guna memperluas pengawasan maya atas sekitar 100 anggota petugas baru. "Spiegel" menyatakan BND bertujuan memantau lalu lintas data antarbangsa "sedekat mungkin", dengan mencatat bahwa pada saat ini, ia menyadap sekitar lima persen E-mail, panggilan Internet dan obrolan maya saat hukum Jerman membolehkan hingga 20 persen. Berbeda dengan NSA, BND Jerman tidak diizinkan menyimpan data itu, tapi harus menyaringnya segera. Juru bicara pemerintah pada Senin menyatakan rencana itu hanya di "wacana" serta bahwa hanya lima juta euro resmi disiapkan untuk meningkatkan pengintaian, yang "tidak berhubungan dengan PRISM". Juru bicara itu, Georg Streiter, kepada taklimat berkala pemerintah menyatakan Jerman menanam modal dalam sarana untuk melawan "serangan maya" terhadap server dan jaringan, yang dapat membahayakan keamanan. Ia menolak merinci. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026