
Pasar Kaget Muncul di Sekitar Hotel Transit

Jeddah, (ANTARA) - Pasar kaget muncul di sejumlah hotel transit dan tempat berkumpul jamaah selama tinggal semalam di Jeddah sebelum kembali ke tanah air. Di hotel transit Norcom Hotel, Jeddah, Ahad dini hari, I'in (30) mengaku bisa mengumpulkan uang 800 riyal perhari dengan berjualan sate. Tenaga kerja asal Probolinggo, Jawa Timur, sudah berjualan sate selama tiga musim haji dengan keuntungan sekitar 30-35 persen dari omset 800 riyal perhari. Satu riyal setara dengan Rp2500 hingga Rp2600, tergantung fluktasi nilai tukar. Harga makanan yang ditawarkan relatif murah yakni 2-5 riyal. Harga satu porsi sate kambing dengan lima tusuk daging dan sejumput lontong hanya 5 riyal, begitu juga dengan semangkuk bakso dan sepiring pecal. Di sudut Norcom Hotel terdapat sebidang tanah lapang yang diijinkan bagi tenaga kerja Indonesia di Jeddah untuk berjualan. Terdapat sekitar 30 lapak sederhana dengan beralasan tikar plastik atau karpet sebagai alasnya. Mereka berjualan sate, pecel, ketoprak, bakwan, pisang goreng, bakso, mie ayam, es campur dan kue-kue. Pelangganya bukan saja jamaah yang transit di Norcom, tetapi juga mukimin dan pekerja Indonesia di Jeddah yang kangen makanan Indonesia, seperti Susi, Laila dan Nurlia. Ketiganya bekerja di bagian kebersihan di sebuah layanan pesta penganten dengan masa tinggal 3-7 tahun di Jeddah. Uswatun (23) asal Sampang, Madura, sudah berjualan bakso dan es campur selama empat tahun di sini. Ibu beranak satu yang menikah di usia 10 tahun itu sudah berjualan di pasar kaget Norcom sejak empat tahun lalu. Dia menguasai lapak 2X4 meter yang beralaskan tikar plastik. Kompornya terus menyala menghangat kuah bakso. Dua tahun terakhir dia tidak perlu membayar untuk lapak tersebut karena nenek pemilik tanah sudah meninggal dan keluarganya membebaskan biaya sewa bagi Uswatun dan penjual lainnya. "Tiga, empat tahun sebelumnnya, kami harus bayar 650 riyal selama sebulan," kata TKI yang sudah 10 tahun mukim di Jeddah itu. Dia berjualan 24 jam di pasar kaget itu, bergantian dengan suaminya yang berprofesi sebagai supir. Sehari-hari I'in dan Uswatun bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang pulang hari. Mereka menangani 2-3 rumah setiap harinya. TKI berjualan saat musim haji banyak ditemui di sejumlah tempat di Jeddah. Hampir di semua hotel transit terdapat TKI yang berjualan cendera mata dan makanan khas Indonesia, seperti di hotel transit Rotana dan Madinah Palace. Beberapa diantara mereka juga berjualan di mesjid terapung di pinggir pantai Laut Merah. Di sini, mereka harus berhati-hati karena askar (polisi) terkadang melakukan razia. Kedatangan jamaah berhaji mendatangkan rezeki bagi TKI. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
