
Mati di Pasaman, buaya dikubur di Agam

Lubuk Basung (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, menguburkan buaya muara (crocodylus porosus) yang mati di Rantau Panjang, Nagari Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia, Kabupaten Pasaman Barat, Jumat (29/1), di lahan perkebunan milik warga Lubukbasung, Kabupaten Agam.
"Bangkai buaya dengan panjang 360 centimeter dan berat 150 kilogram dimakamkan petugas BKSDA di lahan milik warga Lubukbasung, Agam, Jumat," kata Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Sumbar, Ade Putra di Lubukbasung, Sabtu.
Ia mengatakan, pemilih lahan dengan sukarela mengizinkan untuk lokasi pemakaman buaya berkelamin jantan itu.
Pemakaman itu dilakukan setelah dilakukan observasi dan pemeriksaan bersama dokter hewan setempat.
"Diketahui satwa itu berkelamin jantan, panjang badan 360 centimeter dan berat badan kurang lebih 150 kilogram. Pada bagian tubuh terdapat beberapa luka hasil tusukan suatu benda," katanya.
Selanjutnya tubuh satwa dibawa ke Resor KSDA Agam di Lubukbasung untuk dikuburkan.
Evakuasi tubuh satwa buaya muara (crocodylus porosus) yang ditangkap warga Rantau Panjang, Nagari Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia, Kabupaten Pasaman Barat, Jumat (29/1).
Sebelumnya satwa langka dan dilindungi tersebut ditangkap warga setempat pada hari Kamis (28/1) sekira pukul 23.00 WIB.
"Satwa itu ditangkap karena dianggap meresahkan warga setempat. Kemudian pada Jumat (29/1) pagi, satwa itu diketahui sudah mati," katanya.
Ade mengimbau warga mengurangi akrivitas di sungai dan rawa agar tidak diserang buaya muara karena pada Januari-Juli merupakan masa kawin dan bertelurnya satwa itu.
Menurut prilaku dan siklus hidup buaya muara, Januari sampai Juli merupakan musim kawin dan bertelurnya satwa itu.
Buaya yang akan kawin dan bertelur cenderung akan mencari lokasi yang aman dari gangguan individu lainnya.
Terutama induk buaya yang sedang menunggui sarang telurnya, akan sangat agresif dan sensitif terhadap keberadaan mahkluk lain termasuk manusia.
"Seperti yang ditemukan di Nagari Tiku Lima Jorong, Kecamatan Tanjungmutiara, Senin (25/1), dimana di lokasi tersebut ditemukan sarang telur buaya yang dijaga oleh induknya," katanya.
Sedangkan di Kabupaten Pasaman Barat, dalam dua minggu terakhir dilaporkan terjadi serangan satwa buaya terhadap manusia di Ujung Gading, Sasak dan terakhir di Kinali.
Meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa buaya muara beberapa waktu belakangan disebabkan oleh beberapa hal.
BKSDA menyimpulkan beberapa faktor meningkatnya interaksi manusia dan buaya selain disebabkan karena lagi musim kawin dan bertelur. Beberapa faktor itu adalah adanya penyempitan habitat.
Hampir diseluruh lokasi terjadinya serangan buaya, kondisi alamnya sudah beralih fungsi menjadi perkebunan dan lahan budidaya lainnya.
Bahkan sepanjang pinggiran aliran sungai sampai dengan muara sudah ditanami dan akhirnya memaksa buaya untuk berada sepanjang waktu di dalam air.
"Tentunya hal ini mengakibatkan semakin seringnya tingkat perjumpaan buaya dengan manusia," tegasnya. (*)
Pewarta: Yusrizal
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
