Logo Header Antaranews Sumbar

Menlu AS Tuduh Sudan Tekan Kawasan Dikoyak Perang

Sabtu, 25 Mei 2013 20:15 WIB
Image Print

Addis Ababa, (Antara/AFP) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry, Sabtu, menuduh Presiden Sudan Omar al-Bashir menekan rakyat di kawasan Kordofan Selatan dan Nil Biru serta berusaha untuk memaksakan hukum Islam pada mereka. Di kedua daerah itu "anda memiliki orang-orang yang untuk waktu yang lama telah merasa bahwa mereka ingin pemerintahan sekuler dan identitas mereka dihormati," kata Kerry kepada wartawan di sela-sela pertemuan puncak Uni Afrika. Diplomat tinggi Amerika Serikat itu menegaskan masyarakat di daerah yang dilanda perang tersebut - tempat pemberontak berjuang memerangi pasukan pemerintah - tidak menginginkan kemerdekaan atau untuk "melepaskan diri dari Sudan. " "Sayangnya Presiden Bashir sedang mencoba untuk menekan mereka dengan cara otoriter dan melalui kekerasan untuk mencapai suatu kepatuhan terhadap standar yang tidak ingin mereka terima terkait dengan hukum Islam", kata Kerry. Khartoum juga menunjukkan "sikap yang kaku terkait dengan identitas mereka", katanya. "Jadi itulah dasar dari bentrokan, dan apa yang penting di sini dalam penilaian saya adalah agar Presiden Bashir untuk menghormati apa yang ingin dicapai oleh orang-orang di Kordofan Selatan dan Nil Biru," kata Kerry. Kerry yang mengemukakan pendapatnya sebelum melakukan pertemuan di Addis Ababa dengan Menteri Luar Negeri Sudan Ali Ahmad Karti, juga mengakui jika dugaan dukungan Sudan Selatan kepada para pemberontak SPLM-Utara yang berperang di dua daerah itu mengkhawatirkan Sudan. Sudan Selatan berpisah dari Sudan pada tahun 2011 setelah puluhan tahun perang sipil berdarah, tapi masih tersisanya isu yang belum diselesaikan di daerah perbatasan dan minyak telah ikut memanaskan suasana. Kerry mengumumkan setelah pembicaraan dengan Perdana Menteri Ethiopia Hailemariam Desalegn bahwa ia akan segera menunjuk seorang utusan baru Amerika Serikat untuk Sudan dan Sudan Selatanmenggantikan Princeton Lyman. "Saya pikir Utara dan Selatan berada dalam kondisi yang sangat rentan saat ini... adalah penting untuk membangun proses perdamaian, dan membangun kemandirian negara muda serta menempatkan fokus dan energi pada rakyat dan pengembangan masa depan dan tidak melawan isu-isu masa lalu, "katanya. Kordofan Selatan merupakan bagian dari Sudan tetapi rakyatnya berjuang bersama dengan yang sekarang disebut sebagai tentara Sudan Selatan selama perang sipil 1983-2005. Lebih dari 200 ribu orang telah melarikan diri dari zona perang ke Sudan Selatan dan Ethiopia sebagai pengungsi, sementara itu diperkirakan satu juta orang lagi telah terpengaruh dengan kondisi di Kordofan Selatan dan Nil Biru, tempat pertempuran baru pecah hampirdua tahun lalu. Kerry juga menyerukan semua warga dari zona titik nyala Abyei, yang melintasi perbatasan Sudan dan Sudan Selatan, untuk diizinkan memilih dalam suatu referendum yang lama tertunda. Status Abyei adalah isu yang paling sensitif yamg tersisa dari perjanjian perdamaian antara kedua negara. Wilayah itu seharusnya mengadakan referendum pada bulan Januari 2011 untuk memutuskan bergabung dengan Sudan atau Sudan Selatan, tetapi perbedaan pendapat tentang siapa yang bisa memilih telah membuat pemungutan suara terhenti. "Abyei menyajikan sebuah tantangan khusus dan saya pikir kita setuju bahwa ini adalah saat yang kritis agar Abyei segera dapat menggelar referendum, "kata Kerry. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026