Logo Header Antaranews Sumbar

Wamenkes: Belum Semua RSA Beroperasi Maksimal

Sabtu, 13 Oktober 2012 16:02 WIB
Image Print

Yogyakarta, (ANTARA) - Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengatakan dari 19 rumah sakit akademik yang ada di Indonesia, belum seluruhnya beroperasi maksimal, karena berbagai hal. "Ada yang sudah berjalan dengan baik sesuai standar yang ada, namun ada yang belum selesai dibangun, dan ada pula yang telah berjalan tetapi kemudian berhenti sementara waktu," katanya usai berkunjung ke Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Sabtu. Menurut dia, faktor yang menyebabkan masih ada RSA yang belum beroperasi maksimal di antaranya adalah faktor anggaran dan kelembagaan. Ali mengatakan rumah sakit adalah sebuah lembaga yang padat modal, padat teknologi, dan padat ilmu, sehingga memerlukan banyak sumber daya untuk mengoperasionalkannya. Rumah sakit akademik, lanjut Ali, adalah rumah sakit yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan tujuan untuk menghasilkan dokter serta tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi sesuai standar Kementerian Kesehatan dan masyarakat. "Proses pendidikan tidak hanya dilakukan secara akademik dengan buku-buku teks, tetapi pendidikan untuk dokter dan tenaga kesehatan juga harus dilakukan melalui praktik, sehingga mereka memiliki kompetensi dengan standar nasional dan global," katanya. Mengenai RSA UGM, menurut dia kondisinya gedung sudah cukup baik, dan kepercayaan dari masyarakat yang ingin memperoleh layanan kesehatan di rumah sakit itu juga terus meningkat. Sejak dibuka pada Maret lalu, jumlah pasien yang memanfaatkan pengobatan rawat jalan semakin meningkat setiap bulannya. Pada September lalu tercatat sebanyak 422 pasien rawat jalan. "Rumah Sakit Akademik UGM ini dikembangkan menjadi rumah sakit terpadu, yaitu untuk pendidikan, penelitian, dan pelayanan kepada masyarakat," katanya. Selain rumah sakit akademik yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, juga masih ada sejumlah rumah sakit pendidikan yang berada di bawah Kementerian Kesehatan. Sementara itu, Direktur Utama Rumah Sakit Akademik UGM Arif Faisal mengatakan rumah sakit tersebut harus mampu meningkatkan kualitas dokter, dan tenaga kesehatan, sehingga memiliki kompetensi dengan standar global. "Rumah sakit ini sudah memenuhi izin dan pelayanan yang diberikan, dengan mengacu pada standar pelayanan kesehatan serta aturan dari Kementerian Kesehatan," katanya. Ia meyakini rumah sakit ini akan terus memperoleh kepercayaan dari masyarakat, karena sejak dibuka, jumlah pasien terus meningkat, begitu pula jumlah operasi, dan jumlah rehabilitasi medis terus meningkat. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026