Logo Header Antaranews Sumbar

464 warga Padang positif COVID-19 dinyatakan sembuh

Senin, 13 Juli 2020 17:14 WIB
Image Print
Grafik pemantauan COVID-19 di Padang.Antara/Dinkes Padang. (antarasumbar/Istimewa)
Dari 84 kelurahan yang ada di Padang terdapat 45 kelurahan yang sudah bebas COVID-19,

Padang (ANTARA) - Sebanyak 464 warga Padang, Sumatera Barat yang terkonfirmasi positif COVID-19 dinyatakan sembuh hingga 13 Juli 2020.

"Dari total 563 kasus positif sebanyak 464 telah sembuh, 24 meninggal dan yang masih terinfeksi sebanyak 75 orang," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Ferimulyani Hamid di Padang, Senin.

Ia merinci dari 75 yang masih terinfeksi 32 orang masih dirawat, 20 orang isolasi mandiri dan 23 orang dikarantina.

"Dari 84 kelurahan yang ada di Padang terdapat 45 kelurahan yang sudah bebas COVID-19," ujarnya.

Ia memastikan warga yang sudah sembuh tidak akan terinfeksi lagi kecuali jika virusnya sudah bermutasi.

"Dalam tubuh pasien yang pernah terinfeksi sudah terbentuk zat antibodi untuk melawan jika ada virus serupa masuk," tambahnya.

Feri menyampaikan saat ini masih ditemukan pasien tanpa gejala sehingga perlu diwaspadai dan dalam rangka melakukan antisipasi pihaknya melakukan surveilans bersama Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang untuk melakukan tes usap massal di kelurahan.

"Ini bertujuan untuk menemukan angka orang tanpa gejala yang masih banyak," katanya.

Sebelumnya ahli kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang, Dr dr Andani Eka Putra menyampaikan penyebaran COVID-19 di Sumbar berada pada fase patogenesis yaitu kejadian infeksi di bawah 40 persen, kasus kematian berat sedikit, surveilans dan diagnostik masif, serta pertempuran terjadi di lapangan.

Ia mengingatkan jangan sampai masuk pada fase eksponensial dan melakukan pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat kolaborasi Dinas Kesehatan dengan Laboratorium serta melakukan pool tes yaitu tes usap massal.

Pada sisi lain, ia juga mengkritik penggunaan cairan disinfektan yang berlebihan dan tidak pada tempatnya.

"Disinfektan disebar di jalanan. Bahkan ada bilik disinfektan yang cairannya ditembakkan ke tubuh manusia yang bisa berakibat kepada iritasi dan kanker kulit, bilik disinfektan itu tidak efektif karena penggunaannya untuk benda mati, bukan kulit manusia," jelas dia.

Untuk memutus mata rantai COVID-19, ia menilai perlu sosialisasi masif di tengah masyarakat agar patuh pada protokol seperti masker agar bisa bersahabat dengan COVID-19.



Pewarta:
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2026