Logo Header Antaranews Sumbar

Pertemuan "Teman-teman Suriah" Perumit Krisis Suriah

Senin, 22 April 2013 08:09 WIB
Image Print

Damaskus,(Antara/Xinhua-OANA) - Keinginan kelompok oposisi Suriah di pengasingan bagi campur tangan dukungan asing mendorong Suriah makin jauh dari penyelesaian politik, ke arah betrokan militer --yang berbahaya, kata beberapa pengulas. Dalam pertemuan "Teman-teman Suriah" di Istanbul, Turki, Sabtu (20/4), kelompok oposisi Suriah di pengasingan --Koalisi Nasional-- mengatakan mereka ingin zona larangan terbang diberlakukan di Suriah untuk melindungi perbatasan selatan dan utara dan menjamin jalur pulang yang aman buat pengungsi Suriah. Kelompok itu menuntut "negara yang mampu" agar melakukan tindakan mendesak guna melumpuhkan kemampuan militer pemerintah Suriah dalam menggunakan "roket balistik dan senjata kimia". Kelompok tersebut menyarankan "serangan udara pembedahan" oleh pesawat tanpa awak terhadap peluncur roket balistik militer Suriah. Hmaidi Al-Abdullah, pengulas politik kenamaan, mencermati sedikitnya peserta pertemuan Istanbul, yang menunjukkan kemerosotan kepentingan internasional pada oposisi Suriah. "Hanya 11 negara telah ikut dalam pertemuan tersebut, sementara dalam beberapa pertemuan terdahulu oposisi membanggakan jumlah peserta yang biasanya mencapai lebih dari 70 negara. Itu mencerminkan kemerosotan jumlah dukungan bagi oposisi," kata Abdullah kepada Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin pagi. Meskipun Inggris dan Prancis telah mendukung upaya untuk mencabut embargo senjata buat gerilyawan Suriah guna menggeser keseimbangan konflik tersebut, sehingga mendukung oposisi, Presiden AS Barack Obama telah berulang-kali mengatakan ia tak berencana mengirim senjata atau memberikan bantuan "mematikan" buat gerilyawan di Suriah. Namun, Amerika Serikat menjamin paket baru buat gerilyawan Suriah sebanyak 130 juta dolar AS dalam bentuk bantuan "tidak mematikan", yang akan meliputi baju lapis baja, alat melihat pada malam hari, kendaraan lapis baja dan peralatan komunikasi canggih. Abdullah, si pengulas, mengecam bantuan "tak mematikan" semacam itu oleh Amerika Serikat, sebab "tak ada senjata tak mematikan seperti itu. Semua senjata mematikan, bahkan baju lapis baja, karena mereka mendorong dan membuat berani petempur guna meningkatkan serangan mereka". Menurut Abdullah, pernyataan Barat bahwa bantuan "tak boleh jatuh ke tangan kaum ekstrem" tidak akurat, "karena semua kelompok yang bertempur di lapangan mempertahankan keberadaan Fron An-Nusra dan berperang berdampingan dengannya". Pertemuan Istanbul cuma akan menambah rumit krisis Suriah, "terutama karena pertemuan tersebut diselenggarakan dengan harapan bisa menyediakan senjata dan uang kontan buat oposisi", kata Abdullah. Abdullah merujuk kepada waktunya, ketika pemimpin Koalisi Nasional, Moaz Al-Khatib, mengecam Amerika Serikat karena menetapkan Front An-Nusra, yang berafiliasi pada Al Qaida, sebagai organisasi teroris, padahal Front An-Nusra adalah bagian dari "revolusi" di Suriah. Namun Al-Khatib belum lama ini telah menarik sebagian pendiriannya, setelah sayap Al Qaida di Irak mengumumkan penyatuan dengan Front An-Nusra. Komentar Abdullah dikeluarkan sehari setelah pemimpin militer gerilyawan, Salem Idris, memberitahu wartawan di sisi pertemuan "Teman-teman Suriah" bahwa "hanya kekuatan yang akan bisa mengakhiri konflik" di Suriah. Idris mengesampingkan kemungkinan perundingan dengan pemerintah. Sementara itu Safwat Akkash, seorang anggota kelompok oposisi Badan Koordinasi Nasional --yang berpusat di Damaskus, mengatakan tujuan pertemuan "Teman-teman Suriah" ialah untuk menciptakan sejenis oposisi yang secara politik terkait dengan barat. Akkash merujuk kepada Koalisi Nasional, yang dipandang oleh kelompok oposisi di dalam Suriah sebagai kelompok ciptaan Barat yang sangat haus akan campur tangan asing di Suriah, skenario yang ditolak dengan tegas oleh kelompok oposisi yang berpusat di dalam negeri Suriah. Di dalam satu wawancara dengan TV Iran, Al-Alam, Akkash mengatakan pembahasan arus senjata oleh kelompok oposisi di pengasingan adalah upaya untuk menyiram bensin ke api. Ia mengatakan semua proses penyaluran senjata mesti dihentikan kepada semua pihak; baik kepada pemerintah maupun oposisi guan memulai "perundingan yang sesungguhnya". Ia menggaris-bawahi keretakan di dalam tubuh oposisi Suriah, dan mengatakan bagian impian oposisi ialah negara sipil yang demokratis. Ditambahkannya, bagian semacam itu mensahkan kebijakan "perjuangan damai dan demokratis" guna mencapai sasarannya. Bagian lain oposisi, katanya, adalah mereka yang berusaha menjatuhkan pemerintah Suriah dan tak peduli sekalipun "iblis" kemudian datang untuk memerintah Suriah. "Dengan menyebut 'iblis', saya maksud semua kekuatan bersenjata yang telah datang kepada kami dari segala sudut, dari An-Nusra dan yang lain yang menjanjikan kesetiaan kepada Al Qaida dan tak merasa malu untuk mengumumkan program politik mengenai ini," kata Akkash.(*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026