Logo Header Antaranews Sumbar

Aji Imbau Media Dorong Penyelesaian Konflik Antarwarga

Selasa, 30 Oktober 2012 06:54 WIB
Image Print

Bandarlampung, (ANTARA) - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung mengimbau media massa dan para jurnalis dapat menempatkan pemberitaan dan liputan jurnalistik untuk mendorong adanya penyelesaian konflik antarwarga yang kembali terjadi di Provinsi Lampung, yaitu di Kabupaten Lampung Selatan. Dalam pernyataan sikap yang disampaikan Ketua AJI Bandarlampung, Wakos Reza Gautama, didampingi Sekretaris, Padli Ramdan, di Bandarlampung, Senin malam, berharap media massa yang memberitakan konflik di Lampung Selatan itu, dapat mengarahkan pada penyelesaian dan perdamaian antarpihak yang berselisih. AJI Bandarlampung mencatat di Provinsi Lampung telah terjadi sejumlah konflik antarwarga. Konflik terbaru adalah kerusuhan yang melibatkan dua desa di Lampung Selatan, dengan dibantu warga beberapa desa di sekitarnya. Kondisi adanya konflik berulang di Lampung ini, seolah menjadikan daerah ini terkenal justru karena konfliknya tersebut. Sebelumnya konflik antarwarga juga terjadi di Kabupaten Lampung Timur dan Mesuji. Konflik antarwarga di Lampung Selatan juga sudah beberapa kali terjadi, hingga menimbulkan kerusuhan antarwarga. Menurut Wakos, kondisi itu membuat berita soal konflik menjadi santapan media massa. Hampir semua media cetak di Lampung menempatkan berita kerusuhan itu pada halaman depan, bahkan menjadi headline (berita utama) halaman pertama. Dalam memberitakan konflik itu, AJI Bandarlampung mengimbau kepada semua media, cetak, online, dan elektronik, untuk mengedepankan penyelesaian konflik dalam memberitakan kerusuhan yang terjadi. "Jangan hanya menampilkan kekerasan dan memanas-manasi, sehingga konflik tidak berujung dan tidak ada penyelesaiannya," kata Wakos Gautama lagi. Menurut dia, pengemasan berita konflik perlu menggunakan konsep "peace journalism" atau jurnalisme damai, yaitu mengusung niatan baik untuk membantu tercipta perdamaian dalam konflik tersebut. Media massa, kata Wakos, jangan menampilkan foto-foto vulgar yang memuat korban yang tewas dalam konflik. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan kemarahan dari pihak lain, dan memancing terjadi kerusuhan yang lebih besar, ujar dia. "Berita konflik jangan diarahkan pada kerusuhan suku, ras, dan agama. Berita yang mengarahkan pada konflik agama dan suku itu bisa memantik konflik yang lebih meluas," kata dia. AJI Bandarlampung pun mengimbau agar semua media massa dapat berimbang dalam memberitakan kerusuhan, jangan sampai memihak kepada salah satu kelompok. Media harus mengakomodir semua kelompok supaya konflik bisa segera mereda dan berujung pada penyelesaian, ujar dia pula. Wakos menambahkan, banyak gambar-gambar dan isu-isu yang beredar berkaitan dengan konflik di Lampung Selatan tersebut. Peredaran gambar dan isu itu melalui internet, handphone (HP), media sosial, dan Blackberry Messenger, seharusnya oleh media dan para jurnalis lebih dulu memverifikasi dan melakukan pengecekan berulang (check, recheck, serta crosscheck), terhadap semua foto dan informasi yang bertebaran. "Jangan sampai berita bohong muncul dan diterbitkan media massa," ujar Wakos pula. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026