Jalani cuci darah selama 3,5 tahun teknologi finge print mudahkan Jum Julietri

id berita padang, berita sumbar, bpjs kesehatan, cuci darah, gagal ginjal

Jalani cuci darah selama 3,5 tahun teknologi finge print mudahkan Jum Julietri

Jum Julietri saat cuci darah di RSUP M Djamil Padang ditemani kakaknya Jendrawati. (ANTARA/Ikhwan Wahyudi)

Padang, (ANTARA) - Sejak 3,5 tahun terakhir Jum Julietri (37) menjalani cuci darah di Rumah Sakit Umum Pusat M. Djamil setelah dokter mendiagnosanya mengalami gagal ginjal. Ditemani kakak perempuannya, Jendrawati, yang selalu rutin mengantar untuk cuci darah dua kali sepekan Jum mendapatkan jadwal pada siang hari setiap Jumat dan Selasa.

Beralamat di wilayah PasarAmbacang, Padang setiap tiga bulan sekali Jum harus kembali ke Puskesmas untuk memperbarui surat rujukan cuci darah. Namun sejak ada kebijakan dari BPJS Kesehatan bagi pasien cuci darah yang tidak perlu mengulang rujukan dari Fasilitas Kesehaan Tingkat Pertama (FKTP) ketika memanfaatkan layanan cuci darah berkat teknologi finger print untuk pasien hemodialisa (HD), ia sedikit lega.

“Kalau tidak harus datang lagi ke Puskesmas (klinik atau dokter praktik perorangan,), sementara untuk mengantar saja anggota keluarga yang lain tidak ada yang bisa. Kebijakan ini bagus karena memudahkan, karena sebelumnya harus ke fasilitas untuk memperpanjang surat rujukan,” ujarnya.

Selain itu sejak adanya Program JKN-KIS, Jum yang status kepesertaannya merupakan penerima bantuan iuran dari Pemerintah Kota Padang merasa terbantu dengan adanya peran negara dalam melindungi hak dasarnya sebagai warga negara. Tak terbayangkan berapa biaya yang harus dibayar untuknya cuci darah.

“Kami mana ada uang, sekali cuci darah saja kabarnya sampai Rp. 1,5juta, dua kali pula seminggu dan sudah berjalan 3,5 tahun. Itu saya merasakan betul manfaat dari BPJS Kesehatan dan selama ini dalam proses pengobatan selalu mendapatkan pelayanan yang baik dan tidak ada perlakukan yang dibeda-bedakan,” kata dia.

Jendrawatikakak dari Jum mengakui sejak adiknya mengalami gagal ginjal cukup repot karena tidak hanya cuci darah rutin dua kali sepekan, adiknya juga kerap sewaktu-waktu harus dilarikan ke IGD.

“Kalau sudah makan pantangan misal minum air terlalu banyak maka sewaktu-waktu bisa dilarikan ke RS," katanya.

Sejak awal ia mengaku sudah diberitahu oleh dokter akan sering ke rumah sakit karena jika pasien tidak disiplin akan banyak gejala lain. Akan tetapi untuk soal biaya tidak perlu pusing karena sudah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, sekarang tinggal bagaimana menjaga adik agar tidak melanggar pantangan.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar