
Masyarakat Pasaman Mulai Meminati Sadap Getah Pinus

Lubuk Sikaping, Sumbar, (ANTARA) - Masyarakat Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat sejak beberapa tahun terakhir mulai meminati aktivitas menyadap getah pohon pinus sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga."Meskipun belum begitu populer, namun penyadapan getah pinus sudah mulai diminati masyarakat karena dinilai mampu untuk menjadi salah satu alternatif peningkatan sumber pendapatan," kata Asisten Manager penyadapan getah pinus Kabupaten Pasaman Arifin Siregar, Minggu.Ia menyebutkan, saat ini potensi getah pohon pinus di kawasan hutan konversi Kabupaten Pasaman yang terletak di posisi paling utara Provinsi Sumbar tersebut sudah mampu mencapai sekitar 30 ton dalam sebulan dari 240 hektare lahan tanaman pinus. "Pengelolaan getah pinus ini dilakukan langsung oleh masyarakat setempat dibawah naungan BUMN yang bekerjasama dengan Kementrian Kehutanan," kata dia.Dari 12 kecamatan di Pasaman hasil panen getah pinus terbesar terdapat di Kecamatan Rao, tepatnya di kawasan Polongan Duo dan Muaro Cubadak.Sementara itu, dalam penjualan satu kilogram getah pinus yang disadap masyarakat dapat dibeli dengan harga Rp2.500. "Setiap hari masyarakat mendapatkan penghasilan sedikitnya Rp75.000 karena rata-rata satu orang mampu mengeluarkan getah pinus sebanyak 30 kilogram," kata dia.Dikatakan, penyadapan getah pinus tersebut dapat dilakukan masyarakat layaknya pengolahan getah karet."Selain menggores kulit batang pinus dengan menggunakan pisau sadap karet, penyadapan getah pinus juga dapat dilakukan dengan cara pengoakan dengan pisau khusus yang dinamakan quare," kata dia.Biasanya, hasil panen getah pinus masyarakat Pasaman didistribusikan ke Kota Medan Sumatera Utara untuk menjadi gondorukem dan terpentine.Setelah menjadi gondorukem, getah tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjadi pernis, semir sepatu dan batique. Sedangkan terpentine biasanya dijadikan untuk membuat minyak wangi dan campuran cat. (**/zik/sun)
Pewarta: Inter
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
