Ini cara-cara bumikan Pancasila menurut Megawati

id megawati soekarnoputri,pancasila,bpip

Ini cara-cara bumikan Pancasila menurut Megawati

Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Wakil Presiden Maƕruf Amin (kanan) dan Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ( BPIP) Megawati Soekarnoputri menghadiri "Presidential Lecture" Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/12/2019). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama.

Jakarta, (ANTARA) - Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri mengungkapkan cara-cara untuk dapat membumikan Pancasila.

"Pak Jokowi ngasih Buya, Pak Tri, Pak Ma'ruf, Pak Mahfud, saya seneng punya teman-teman yang membantu mengaktualisasikan diri. Saya tanya begitu terkait pola hidup, etika, keteladanan, sopan santun, moral. Anak muda sekarang apa tahu?" kata Megawati di Istana Negara Jakarta, Selasa.

Megawati menyampaikan hal tersebut dalam acara "Presidential Lecture" Internalisasi dan Pembumian Pancasila yang digagas BPIP. Dalam acara tersebut hadir juga Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Ma'ruf Amin, para anggota Dewan Pengarah BPIP antara lain Sudhamek, Wakilnya, Andreas Anangguru Yewangoe, Buya Ahmad Syafii Maarif, para menteri kabinet Indonesia Maju serta para kepala lembaga pemerintah.

Pada 7 Juni 2017, Presiden melantik 9 orang anggota Dewan Pengarah dan seorang Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) yang kemudian berubah menjadi BPIP pada 2018.

Sembilan orang Dewan Pengarah tersebut adalah Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-6 Jendral TNI (Purn) Try Sutrisno, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Muhammad Mahfud MD, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj.

Kemudian ada mantan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Pendeta Andreas Anangguru Yewangoe, Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya dan Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia sekaligus CEO Garudafood Group Sudhamek.

"Saya anak presiden tinggal loh di sini (Istana Negara), saya di sini diajar Pancasila. Saya hidup dengan anak-anak tukang kebun, supir. Bapak saya tidak pernah mengatakan saya tinggal di istana tapi hanya tinggal di rumah besar. Saya baru tahu bapak saya mengajarkan itu ketika ketemu rakyat tidak ada perbedaan, memang perlu start dari awal kalau bisa dari bayi," ungkap Megawati.

Menurut Megawati ada gerakan yang ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi lain.

"Ada keinginan mengganti ideologi kita, padahal ideologi tidak mudah dibicarakan tapi orang Jawa sangat mengerti apa? Roso, yang ada di sini yang sama dengan diucapkannya itu jadi sebenarnya kalau mau tau pancasila panjang lebar nanti sebetulnya itu gotong royong," tutur Megawati.

Megawati menyebutkan setidaknya ada 4 buku yang harus dibaca untuk memahami Pancasila.

"Jadi sebetulnya kalau mau ada 4 buku dibaca, itu buku Bung Karno. Pertama buku mencapai Indonesia Merdeka. Buku ini menceritakan kenapa kita merdeka," ujar Megawati.

Buku kedua adalah Indonesia Menggugat yaitu pledoi (nota pembelaan) Sukarno saat dimasukkan ke penjara.

"Kalau baca buku itu, ada orang dari mana punya preverensinya urusan ekonomi sampai soal uang kecil Belanda dan dihitung ketika zaman itu ada inflasi, karena memang Bung Karno banyak baca buku," ungkap Megawati.

Buku ketiga adalah "Lahirnya Pancasila". "Kenapa sih masih terus meributkan Pancasila bukan buatan Bung Karno? Mbok ngomong otentiknya, kita bisa cari di arsip saya tidak mau omong kosong dijawab omong kosong mari cari sejarahnya," imbuh Megawati.

Keempat adalah buku yang memuat pidato Sukarno di PBB megenai "To build the world new".

"Pak Jokowi mengatakan mau jadi negara maju, tapi bagaimana mau maju kalau bertentangan dengan ideologi dan masih egosentris? Gotong royong, digali dari bumi Indonesia. Bapak saya mengaku saya penggalinya bukan pembuatnya," ucap Megawati. (*)

Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar