Logo Header Antaranews Sumbar

Tokoh Oposisi Suriah Desak Pemimpin Arab Hormati HAM

Rabu, 27 Maret 2013 07:01 WIB
Image Print

Doha, (Antara/Reuters) - Pemimpin oposisi Suriah Ahmed Moazal-Khatib pada Selasa mendesak para penguasa Arab untuk membebaskan para tahanan politik dan bergabung bersama warga Suriah memutus "ikatan penindasan" dengan meninggalkan kalimat-kalimat retorik pada konferensi tingkat tinggi Arab. Dengan menduduki kursi Suriah di KTT Liga Arab di Qatar untuk pertama kali, Khatib tak mengatakan secara langsung dalam seruannya kepada para emir dan presiden, yang sering dikritik oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia karena penanganan mereka atas protes-protes di dalam negeri. "Sebagai saudara muda Anda, saya sampaikan kepada Anda: Takutlah pada Tuhan ketika mengurus rakyat Anda, perkuat negara Anda dengan jujur dan adil," kata ulama itu, yang mengakui dia tak menghendaki protokol diplomatik. Khatib menyeru para pemimpin itu untuk menerima satu resolusi "membebaskan tahanan di semua dunia Arab sehingga hari kemenangan revolusi Suriah, yang akan memutus ikatan penindasan, merupakan hari bahagia bagi semua rakyat kita". Inilah permintaan yang mendapat sorotan untuk membuat negara-negara yang menyediakan dana bagi perjuangan oposisi selama dua tahun guna menggulingkan Presiden Bashar al-Assad. Banyak negara Arab menolak mereka dikatakan menahan tahanan politik dengan menyatakan bahwa mereka hanya menahan para pelanggar hukum atau mereka yang mengancam keamanan nasional. Bilamana pelanggaran terjadi, mereka disidik, kata para pejabat di banyak negara itu. Pada Senin, jaksa penutut umum Mesir memerintahkan penangkapan lima aktivis politik terkait dengan kekerasan dekat markas Ihkwanul Muslimin pekan lalu. Bulan lalu seorang seniman Qatar dijatuhi hukuman 15 tahun karena mengeritik emir dan berusaha memicu pergolakan. Permintaan Khatib menggemakan penekanan dalam pidatonya di KTT itu pada kebutuhan untuk menghormati hak-hak asasi manusia dan kekerasan terhadap isu-isu yang disuarakan para demonstran yang telah menggerakkan pergolakan Arab. Mantan imam masjid itu menyebut kekejaman yang dilakukan pasukan pemerintah terhadap pemberontak dan pembangkang, dengan melukiskan bagaimana seorang mahasiswa dibuat gila lewat penyiksaan sepekan sebelumnya akhirnya dibunuh. Dia juga menyeru Washingtton untuk berperan lebih besar dalam krisis Suriah dan mengatakan dia telah memeinta Menteri Luar Negeri AS John Kerry untuk menggunakan peluru kendali Patriot melindungi wilayah-wilayah yang telah dikuasai pemberontak di bagian utara Suriah dari serangan udara pasukan Bashar. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026