Bukittinggi inflasi 0,51 persen April 2019

id Bukittinggi Inflasi,Inflasi,BPS Bukittinggi

Ilustrasi - Pedagang menyiapkan bawang merah di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (2/5/2019) (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/wsj)

Bukittinggi (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, mencatat daerah itu inflasi 0,51 persen pada April 2019, kenaikan harga cabai merah dan bawang merah adalah penyumbangnya.

Kepala BPS Bukittinggi Mukhlis di Bukittinggi, Kamis, mengatakan selama April 2019 perkembangan harga berbagai komoditas menunjukkan kenaikan yang juga disebabkan karena akan memasuki bulan puasa.

Komoditas cabai merah menjadi penyumbang inflasi dengan andil 0,18 persen dan bawang merah dengan andil 0,17 persen.

Selain komoditas tersebut, beberapa komoditas lain yang juga mengalami kenaikan harga selama April 2019 yaitu bawang putih, pisang, belut, jeruk, tomat sayur, ikan tongkol, rokok kretek filter, jengkol, apel. petai, daging ayam ras dan lainnya.

Inflasi di Bukittinggi pada bulan tersebut disebabkan oleh kenaikan indeks di enam kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar.

Selanjutnya kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga serta kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan.

Di sisi lain sejumlah komoditas mengalami penurunan harga pada April 2019 yaitu beras, telur, ayam ras, ikan dencis, emas perhiasan, terung panjang, cabai rawit, cumi-cumi, kacang panjang, tarif listrik dan lainnya.

BPS mencatat dari 82 kota indeks harga konsumen (IHK), 77 kota mengalami inflasi dan lima kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Medan dan terendah di Pare-pare.

Bukittinggi berada di urutan ke-13 di Sumatera dan ke-22 dari seluruh kota di Indonesia yang mengalami inflasi.

Tingkat perubahan IHK menggambarkan daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan harian, makin tinggi inflasi maka makin rendah nilai uang dan daya belinya.

Sebelumnya, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumbar Wahyu Purnama mengatakan inflasi cenderung meningkat seiring dengan berlangsungnya perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Data historis menunjukkan siklus Ramadhan dan Lebaran memberikan dampak yang besar pada inflasi Sumatera Barat selama empat tahun berturut-turut sejak 2015.

Menurutnya hal yang perlu diperhatikan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri yakni ketersediaan pasokan bahan pangan strategis, kelancaran distribusi, dan kenaikan tarif angkutan penumpang. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar