Logo Header Antaranews Sumbar

Sedikitnya 70 Orang Tewas Dalam Pertempuran di Kongo Timur

Rabu, 6 Maret 2013 07:34 WIB
Image Print

Kinshasa, (Antara/Reuters) - Sedikitnya 70 orang tewas dan ribuan meninggalkan rumah-rumah mereka setelah beberapa hari pertempuran antara pemberontak dan pasukan pemerintah di bagian timur Republik Demokratik Kongo, kata badan-badan bantuan Selasa. Bentrokan-bentrokan antara pasukan angkatan darat dan pemberontak dari APCLS, yang mulai berlangsung pekan lalu di kota Kitchanga, merupakan kekerasan paling akhir yang meledak di satu kawasan tempat ketegangan etnis dan pertempuran memperebutkan sumber daya alam. Satu rumah sakit dipenuhi warga sipil yang terluka akibat bentrokan dua kelompok itu dan rumah-rumah mereka dibakar, kata Medecins Sans Frontieres, LSM yang bergerak di bidang kesehatan. "Para sukarelawan palang merah setempat mengatakan 70 orang meninggal," kata Koordinator Bidang Kesehatan MSF, Cory Kik, kepada Reuters lewat telepon. "Suasana serius...Melihat rumah-rumah hangus terbakar dan korban berjatuhan sungguh memilukan." Para pekerja Palang merah setempat belum dapat dimintai keterangan. Tetapi satu orang pejabat setempat mengatakan bahwa sebanyak 200 orang tewas atau hilang setelah bentrokan-bentrokan dan lebih 300 rumah dihancurkan. Pada Selasa 10.000 orang telah berkumpul di luar pangkalan PBB di Kitchanga mencari perlindungan dari pertempuran, menurut PBB. Angka itu hanya bagian dari sekitar 1,8 juta orang yang meninggalkan rumah-rumah mereka di wilayah bagian timur Kongo yang dilanda bentrokan dan pertempuran. Juru bicara AD Kongo, yang dikenal dengan nama FARDC mengatakan pasukan AD mengusir para pemberontak keluar dari Kitchanga pada Senin. Kolonel Olivier Hamuli menyalahkan pertempuran itu, sebagian sangat berdarah dalam beberapa bulan terakhir, pada permusuhan personal antara perwira FARDC dan seorang pimpinan APCLS, yang hingga baru-baru ini bertempur bersama pasukan pemerintah melawan pergolakan M23 anti-Kinshasa. "Pasukan AD telah mengambil alih kota Kitchanga, segalanya sudah terkendali,' kata Hamuli. Bentrokan-bentrokan di bagian timur Kongo kompleks karena kekecewaan personal dan setempat mendorong terjadinya pertempuran antara kelompok-kelompok bersenjata dan tentara AD yang disiplinnya rendah untuk menguasai lahan dan deposit sumber daya alam. Pemberontak dari semua kelompok -- sering terpengaruh mariyuana dan alkohol -- dituding memperkosa dan membunuh warga sipil, jutaan di antara mereka tewas dalam konflik yang berlangsung hampir dua dekade. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026