Logo Header Antaranews Sumbar

Enam bulan, Pariaman telah inkubasi 6.200 telur penyu

Senin, 25 Juni 2018 14:57 WIB
Image Print
Petugas konservasi memperlihatkan anak penyu atau tukik. (Antara Sumbar/Muhammad Zulfikar)

Pariaman, (Antaranews Sumbar) - Unit Pelaksana Teknis (UPT) Konservasi dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (KPSDKP) Pariaman, Sumatera Barat telah menginkubasi 6.200 butir telur penyu dari Januari hingga Juni 2018.

"Dari ribuan butir telur penyu yang diinkubasi tersebut, sekitar 85 hingga 90 persen berhasil menetas sementara sisanya gagal," kata tenaga ahli UPT KPSDKP Pariaman, Dayat di Pariaman, Senin.

Pada umumnya, ujar dia, ribuan butir telur penyu tersebut diperoleh oleh petugas maupun diantarkan langsung masyarakat dari daerah pantai Ketaping Kabupaten Padang Pariaman, Pasir Sunur, Pulau Kasiak pantai Nareh Kota Pariaman dan sejumlah titik lainnya.

Seluruh tukik atau anak penyu yang berhasil menetas itu telah dilepasliarkan ke laut bebas untuk mendukung pelestarian satwa yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tersebut.

Meskipun demikian pihak UPT KPSDKP masih menyisakan sejumlah anak tukik bagi wisatawan yang ingin mengetahui tentang anak penyu untuk kebutuhan penelitian dan sejenisnya.

"Wisatawan yang datang berkunjung kemari akan diedukasi tentang satwa penyu, bahkan bisa ikut serta melepasliarkan tukik ke laut bebas," katanya.

Ia menjelaskan bagi masyarakat yang mengantarkan langsung telur penyu ke konservasi, maka pemerintah provinsi menyediakan biaya adopsi sebesar Rp3000 ribu per butir.

Namun pemerintah provinsi hanya akan membayar telur penyu yang masih dalam kondisi baik atau maksimal enam jam setelah telur tersebut ditemukan dari sarangnya.

"Tidak semua telur penyu bisa diganti biaya adopsinya, karena jika sudah lewat dari enam jam maka sel telur tersebut sudah rusak dan sulit untuk menetas," katanya.

Oleh karena itu lanjut dia, pemerintah terus berupaya mengedukasi setiap masyarakat yang menemukan telur penyu agar memperhatikan cara penaganannya.

Edukasi tersebut diantaranya apabila masyarakat menemukan telur penyu maka harus segera dibawa ke konservasi dengan menempatkan dalam sebuah wajan menggunakan pasir.

Selain itu bagi masyarakat yang menemukan telur penyu cara pembawaan juga diminta agar meminimalkan getaran karena dapat merusak sel telur tersebut. Meskipun demikian menurutnya tingkat kesadaran masyarakat di daerah itu terkait penyelamatan telur penyu sudah mulai membaik.

Nisa salah seorang pengunjung mengatakan cukup tertarik dengan keberadaan konservasi penyu sebagai instansi yang melindungi satwa liar tersebut.

"Objek wisata ini cukup menarik, selain berwisata pengunjung juga dapat mengetahui dan belajar tentang habitat penyu," kata dia. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026