Logo Header Antaranews Sumbar

Sarana dan Prasarana UNBK di Pasaman Barat masih Minim

Selasa, 9 Januari 2018 20:22 WIB
Image Print
Seorang siswa SMKN 1 Solok Selatan, Sumatera Barat, mengerjakan soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Selasa (5/4). (ANTARA SUMBAR/Joko Nugroho)

Simpang Empat, (Antaranews Sumbar) - Sarana-prasarana penunjang Ujian Nasional Berbasis Komputer untuk pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) masih minim.

Menurut pelaksana tugas Kepala MAN 5 Pasaman Barat, Erni di Simpang Empat, Selasa (9/1) pihaknya masih kekurangan komputer dan sarana lainnya.
Ia mengatakan sebelumnya 61 siswa di sekolah itu terpaksa melaksanakan UNBK dengan cara menumpang di sekolah lain.
Pihak sekolah mengaku tidak memiliki pilihan lain, dan berharap tahun depan UNBK bisa dilaksanakan di sekolah mereka.
Berjumlah 61 siswa nantinya terpaksa mengikuti pelaksanaan UNBK dengan cara menumpang di sekolah lain. "Minimnya fasilitas komputer dan jaringan menjadi penyebab utama sekolah kami tidak bisa melaksanakan UNBK secara mandiri," ujarnya.
Pihaknya menyadari sebagai salah satu sekolah baru dengan jumlah siswa yang masih minim maka memaksa mereka harus melaksanakan UNBK di MTSN Simpang Empat.
Meski ujian dilaksanakan disekolah lain. Namun, hal tersebut diprediksi tidak akan menganggu konsentrasi siswa.
Berbagai persiapan akademik dan simulasi PraUNBK sudah dilaksanakan pihak sekolah dengan memanfaatkan komputer dan leptop majelis guru. Dari simulasi tersebut dapat diambil kesimpulan siswa sudah mampu melaksanakan UNBK.
"Pelaksanaan UNBK perdana di sekolah kami,? selain 61 murid terdapat beberapa siswa lain dari sekolah swasta yang tergabung dan akan melaksanakan ujian bersama nantinya," ujarnya.
Direncanakan pada pada 2018 ini uji coba UNBK untuk seluruh sekolah tingkat atas tersebut akan diterapkan. Namun, di Pasaman Barat masih banyak sekolah yang belum memiliki sarana dan prasarana penunjang UNBK tersebut.
Sementara itu, salah seorang siswa MAN 5 Pasaman Barat, Umi Rahmi mengaku tidak khawatir dengan pelaksanaan UNBK, meski dilakukan di sekolah lain.
Pasalnya sebagian besar dari mereka sudah terbiasa menggunakan komputer dan internet. Mereka juga mengaku UNBK dinilai lebih simple dibandingkan ujian menggunakan kertas, ?karena lebih cepat dan aman.
Sekolah dan siswa berharap saat pelaksanaan UNBK nanti bisa berjalan lancar, baik jaringan internet atau komputer yang mereka gunakan.
Ia berharap ke depannya pelaksanaan UNBK bisa lakukan secara mandiri di sekolah sendiri agar siswa tidak perlu berjalan jauh menuju lokasi ujian.
Sementara itu Bupati Pasaman Barat, Syahiran berharap dengan beralihnya kewenangan SMA sederajat ke Provinsi Sumbar akan mendapatkan perhatian lebih.
Sebab, satu pihak yang menangani SMA sederajat tersebut akan berjalan dengan baik. Namun, untuk UNBK Pasaman Barat sebagai salah satu daerah tertinggal yang masih belum dijangkau oleh jaringan internet untuk seluruh wilayah.
Apalagi, setiap? kecamatan di Pasaman Barat sudah memiliki SMA. Pasaman Barat memiliki 11 kecamatan. Diperkirakan Pasaman Barat memiliki SMA sederajat mencapai 30 ?unit jika digabung dengan SMA/SMK serta MAN.
"Kewenangan pengelolaan SMA sederajat ini sudah beralih dari kabupaten ke provinsi. Besar harapan kita semua, akan mendapatkan perhatian lebih. Karena UNBK untuk tahun-tahun berikutnya akan wajib dilaksanakan," ujarnya.
Menanggapi hal itu Anggota DPRD Provinsi Sumbar asal Pasaman Barat, Amora Lubis beberapa waktu lalu mengatakan UNBK wajib dilaksanakan pada tahun 2019 mendatang.
Jika masih ada kekurangan sarana prasarana akan dilengkapi tahun 2018 ini dengan anggaran yang telah ditentukan.
"Kalau tidak salah Rp1,7 miliar untuk perlengkapan UNBK. Memang kita sadari Pasaman Barat dengan luas wilayah yang cukup luas dan masih ada daerah terpencil yang belum dijangkau oleh sinyal. Namun, berkat perhatian semua pihak hal tersebut akan bisa kita atasi nantinya," harapnya. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026