
Siswa di Mosul Irak Berjuang Lanjutkan Pendidikan di Tengah Ancaman IS
Sabtu, 6 Januari 2018 09:33 WIB

Mosul, Irak, (Antaranews Sumbar) - Pembunuhan massal dan pengrusakan prasarana hanyalah sebagian dari konsekuensi kekuasaan kelompok fanatik IS di Mosul, Irak.
Ada banyak konsekuensi lain yang tersembunyi. Tiga tahun kekuasaan IS, misalnya, telah memaksa ribuan siswa di Provinsi Nineveh dan Ibu Kotanya, Mosul, meninggalkan sekolah. Dan mereka berjuang untuk kembali ke sekolah atau perguruan tinggi guna memulai kembali kehidupan pendidikan mereka.
Wahid Akram (20), yang tinggal di kamp pengungsi di Daerah Khazer, sekitar 50 kilometer di sebelah timur Mosul, kehilangan impiannya untuk menjadi seorang dokter, setelah IS menguasai Mosul pada Juni 2014.
"Saya duduk di tingkat tiga sekolah menengah ketika kelompok Da'esh (IS) merebut kota saya, dan saya diwajibkan meninggalkan sekolah selama tiga tahun, kata Akram, yang rumahnya di Mosul hancur sama sekali dalam perang anti-IS.
Setelah pembebasan, Akram berusaha kembali ke sekolah, tapi ia tak diizinkan melanjutkan pelajarannya secara gratis karena batas usia untuk siswa di sekolah milik pemerintah berdasarkan hukum di Irak.
Akram hanya memiliki satu pilihan: membayar sebesar 50.000 dinar Irak (40 dolar AS) untuk mengikuti ujian khusus buat siswa di luar sekolah.
"Saya terpaksa menjual sebagian bahan makanan yang saya terima dari lembaga kemanusiaan di kamp agar bisa memperoleh uang untuk mengikuti ujian tingkat tiga," kata Akram.
Ia sekarang mengikuti pelajaran tak resmi di satu sekolah yang dibuka oleh lembaga kemanusiaan Norwegia di kampnya untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian.
"Saya ingin membaca dan akan melanjutkan studi saya meskipun ada semua penghalang dan akan masuk Perguruan Tinggi Medis guna membantu orang dan memperoleh kehidupan yang lebih baik buat saya dan keluarga saya," kata Akram, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu pagi. Ia memperlihatkan tekadnya untuk mewujudkan cita-citanya.
Seperti Akram, ada ratusan, atau bahkan ribuan siswa lagi di kota besar dan kota kecil lain yang berjuang untuk kembali ke sekolah di tengah pengabaian Pemerintah Irak.
Um Ahmed, ibu seorang murid sekolah menengah atas, mengatakan putranya, Abdullah Mohammed, duduk di tingkat enam (tahun terakhir di sekolah menengah atas) pada 2014, tapi studinya terganggu ketika IS menguasai Mosul, tepat sebelum ujian akhir.
"Ada dulu yang terbaik di kelasnya dengan nilai sangat tinggi. Jika bukan gara-gara teroris ini, ia mestinya telah belajar di Perguruan Tinggi Medis dan saya mestinya menunggu dia dengan bangga untuk menjadi seorang dokter," kata Um Ahmed.
Seham Mohammed juga dilucuti haknya untuk belajar. Perempuan muda itu meninggalkan sekolah dasar di tingkat enam, setelah gerilyawan fanatik memberlakukan cadar untuk perempuan termasuk anak perempuan, dan memberlakukan buku bacaan baru, yang menganjurkan kekerasan dan perpecahan.
"Walaupun keluarga saya dan saya berada di kamp pengungsi, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan untuk mewujudkan impian saya menjadi guru," kata perempuan muda tersebut.
Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Kementerian Perencanaan Irak pada 2013, sebelum serangan kilat IS di Irak Utara dan Barat pada 2014, sebanyak 800.000 siswa bersekolah saat itu di Provinsi Nineveh.
IS menghancurkan prasarana pendidikan, termasuk membakar buku bacaan, mengeksploitasi gedung sekolah untuk tujuan lain, dan mengganti buku bacaan untuk menganjurkan kekerasan dan kemurtadan.
Banyak gedung sekolah digunakan oleh petempur IS sebagai gudang untuk menyimpan senjata dan peledak, atau sebagai pusat pengungsian buat keluarga mereka dan pendukung mereka. (*)
Pewarta: Antara/Xinhua-OANA
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
