
Pesisir Selatan Berpotensi Pengembangan Budidaya Kerap

Painan, Sumbar, (ANTARA) - Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat memiliki kawasan laut dangkal yang luasnya sekitar 500 hektare berpotensi sebagai kawasan pengembangan budidaya ikan kerapu. "Kita punya potensi laut dangkal yang besar, luasnya sekitar 500 hektar. Dari luasan itu, hanya sebagian kecil saja yang baru digarap oleh masyarakat, " kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pesisir Selatan Edwil di Painan, Sabtu. Potensi tersebut terdapat di empat kecamatan yakni Koto XI Tarusan, IV Jurai, Batangkapas dan Sutera. Dari empat kecamatan itu, potensi terluas terdapat di Koto XI Tarusan. Lebih 40 persen atau sekitar 200 hektar terdapat di Kecamatan Koto XI tarusan yang terbentang di kawasan Pariwisata Mandeh. Disusul Batangkapas sekitar 120 hektar, IV Jurai sekitar 100 hektar dan Sutera 80 hektar. Sesuai dengan potensi kelautan yang dimiliki, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat akan terus mengupayakan berbagai program pemberdayaan masyarakat nelayan seperti halnya pengembangan budidaya kerapu. Menurut dia, budidaya ikan kerapu yang merupakan usaha perikanan laut dangkal itu sangat bagus dan cukup menjanjikan bagi nelayan sebagai perekonomian alternatif saat cuaca buruk yang membuat nelayan tidak bisa turun kelaut. Selain harganya yang tinggi, pangsa pasar ikan kerapu tidak terbatas, atau hampir seluruh negara di dunia siap menampung pasokan ikan kerapu. Harga ikan kerapu mencapai Rp350.000 hingga Rp 400.000 per kilogramnya, khusus kerapu bebek. Dengan kondisi harga jual yang menggiurkan dan potensi pasar yang terus meningkat, maka pengembangan dan peningkatan produksi ikan kerapu harus dilakukan. "Budidaya ikan kerapu memiliki pasar dan prospek yang menjanjikan bagi masyarakat khususnya nelayan yang bergerak pada bidang itu karena harganya cukup tinggi, " kata dia. Di Pesisir Selatan usaha tersebut sudah mulai dilakukan oleh masyarakat sejak beberapa tahun lalu atas bantuan pemerintah, bahkan akhir-akhir ini beberapa perusahaan swasta tingkat nasional ikut andil berinvestasi pada sektor perikanan laut dangkal itu. Mereka memanfaatkan perairan laut dangkal di kecamatan Koto XI Tarusan dan IV Jurai. Di lokasi tersebut pembudidayaan dilakukan dengan teknologi keramba jaring apung (KJA). Luas areal yang baru digarap sekitar 5 persen dari 300 hektar potensi yang dimiliki dua kecamatan itu. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
