Logo Header Antaranews Sumbar

Petani Dharmasraya Ikuti Temu Lapang Sekolah Rimba

Selasa, 19 Desember 2017 20:19 WIB
Image Print
Perwakilan kelompok petani karet dan kalapa sawit menunjukkan cara menghidupkan bola lampu yang memakai pupuk organik sebagai pengantar listrik saat mengikuti Hari Temu Lapangan Sekolah 'Rimba' di Jorong Koto Agung, Kecamatan Sitiung, Damasraya, Sumatera Barat, Selasa (19/12). Program sekolah lapangan "Rimba" ini berkerjasama antara WWF Indonesia dangan yayasan Field Indonesia dengan petani karet dan kalapa sawit di Kabupaten Damasraya, bertujuan memberikan kesempatan bagi petani swadaya untuk belajar langsung di lapangan secara berkelompok. (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi/nz/17)

Pulau Punjung, (Antara Sumbar) - Ratusan petani di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, mengikuti temu lapangan sekolah lapang rimba di Nagari (Desa Adat) Sungai Duo yang didukung World Wide Fund for Nature (WWF) Millenium Challenge Account-Indonesia (MCA-I) dan FIELD Indonesia.

Ketua Panitia Temu Lapangan Sekolah Lapang Rimba Sularto di Pulau Punjung, Selasa (19/12), menyebutkan ratusan petani berasal dari 11 kelompok sekolah lapangan rimba perkebunan karet dan kelapa sawit pada sembilan nagari dan enam kecamatan Kabupaten Dharmasraya.

"Petani dibekali pengetahuan ilmu pertanian untuk menjadi petani mandiri ramah lingkungan," ujarnya.

Tujuan sekolah lapang rimba untuk memberi perlindungan keanekaragaman hayati dan peningkatan karbon di lanskap kritis rimba dengan meningkatkan hubungan ekosistem melalui pembangunan hijau.

Ia menyebutkan program rimba dilakukan melalui tiga komponen, yaitu penguatan tata kelola koridor rimba, intervensi pembangunan ekonomi hijau, dan pengawasan evaluasi untuk mendukung implementasi investasi ekonomi hijau secara efektif.

"Kamis mengarahkan petani mampu menyebarluaskan proses dan hasil belajarnya kepada masyarakat luas. Harapannya, ke depan petani dapat lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan pada pihak lain. Ini pengalaman pertama bagi kawan-kawan petani mengelola seluruh kegiatan," tambahnya.

Ia mengatakan perwakilan peserta sekolah lapang rimba juga menyerahkan rekomendasi ke Pemerintah Kabupaten Dharmasraya dengan harapan dapat diakomodir dalam mengembangkan materi yang didapat selama mengikuti sekolah lapangan.

Ia menambahkan sejak program itu dimulai pada 2016 telah dilaksanakan di lanskap koridor rimba seluas 3,8 juta hektar yang meliputi Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Barat.

Sementara, Bupati Kabupaten Dharmasraya, Sutan Riska mengapresiasi dan mendukung program WWF dalam upaya membantu petani daerah dapat berkebun sebagai mana mestinya.

"Kami dari pemerintah sangat mendukung kegiatan ini, berharap akan ada jumlah kelompok sekolah rimba dapat menyasar seluruh petani di Dharmasraya," katanya. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026