
Peraih Nobel Semangati Peneliti IPB Lebih Serius

Bogor, (Antara Sumbar) - Prof Gerrad't Hooft peraih Nobel Fisika Tahun 1999, menggelar diskusi dengan sejumlah dosen dan Senat Akademik IPB untuk memberikan semangat bagi para peneliti agar serius dan tekun dengan apa yang ditelitinya.
"Prof Hooft hadir untuk berdiskusi berbagi pengalamannya dalam bidang penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi, kehadirannya lebih kepada menyemangati kita (peneliti) untuk fokus dan serius pada bidang yang kita teliti," kata Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama IPB Prof Anas Mifta Fauzi, di Bogor, Sabtu.
Selama satu jam, Prof Hooft berdialog dengan rektor IPB beserta jajarannya, Dewan Guru Besar, dosen, dan mahasiswa, dengan tema IPTEK, riset dan pendidikan tinggi.
Dalam diskusinya, Prof Hooft mengajak perguruan tinggi harus mulai memfasilitasi kesempatan peneliti untuk serius dengan bidangnya, fokus pada bidangnya, untuk mau membangun persoalan-persoalan yang dihadapi saat ini, sehingga penelitian terus dikembangkan bisa menghasilkaan sebeuah ilmu pengetahuan yang pada nantinya akan menjadi penelitian besar.
"Prof Hooft mendorong interaksi pada keilmuan harus diberi ruang, bisa berinteraksi, disiplin, mengarah pada pemahaman tentang kompleksitas membangun keberlanjutan," katanya.
Kedatangan Prof Hooft ke Indonesia dalam rangka memenuhi undangan ITB yang menggelar International Conference Mathematics and Natural Science (ICMNS) 2016 yang berlangsung selama tiga hari 2-4 November.
Prof Hooft datang beserta Istri, berencana ingin mengunjungi Kebun Raya Bogor. IPB mengambil peluang dan kesempatan untuk bisa berdiskusi dengan fisikawan tersebut.
"IPB ingin mendapatkan pandangan-pandangan Prof Hooft tentang bagaimana perguruan tinggi itu bisa memberikan atau memfasilitasi atmosfer bagi peneliti agar meneliti dengan baik, bisa menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan syukur-syukur bisa sampai dapat nobel," katanya.
Kehadiran Hooft, lanjut Anas, juga untuk meminta pandangannya tentang ilmu fisika yang punya peran penting dalam pembangunan pertanian.
"Teori fisika itu ternyata termasuk ilmu yang kompleks. Dan IPB sedang bangun komplek sains (iptek yang komplek) yang penting kita pelajari lebih lanjut menuju keberlanjutan," katanya.
Diskusi diikuti oleh Rektor IPB beserta tiga wakilnya, beberapa dekan fakultas, guru besar termasuk mahasiswa.
"Kami berharap diskusi ini membuka wawasan cakrawala kita sebenarnya peluang ada untuk arah kesana (Nobel)," kataanya.
Dalam diskusi ada pertanyaan menarik disampaikan dosen fisikaa IPB, yang menanyakan opini Prof Hooft tentang kecenderungan negara berkembang seperti Indonesia, yang menuntut peneliti melakukan penelitian yang ada manfaat atau dampaknya bagi masyarakat.
"Peneliti di negara berkembang kalau mengajukan proposal selalu ditanyakan apa hasil atau dampak langsung di masyarakat. Padahal kalau bagi peneliti jika meneliti tentang fundamental sains atau dasar sains (basic science) itu belum bisa dijawab, dampaknya apa," kata Anas menceritakan isi diskusi.
Menjawab pertanyaan tersebut, Hooft menyebutkan, pada peneliti dasar belum bisa dijawab apa dampaknya, tetapi peneliti harus meyakini bahwa apa yang diteliti harus akan ada dampaknya dan manfaatnya dikemudian hari. Walau dampak atau manfaat dari penelitian IPTEK dasar belum diketahui dampaknya.
"Pemahaman peneliti fundamental harus dipelajari secara tekun, bahwa IPTEK dasar akan ada manfaatnya nanti," katanya.
Menurut Hooft, para peneliti harus melakukan protes terhadap sistem yang menghambat kerja peneliti dalam meneliti ilmu pengetahuan dasar.
"Peneliti harus protes terhadap sistem tersebut, peneliti harus sampaikan kepada pemerintah bahwa "basic science" tersebut perlu difasilitasi. Tidak semua riset harus menghasilkan sesuatu, ini perlu waktu bisa jadi lima sampai 10 tahun kemudian," katanya.
Hooft menekankan, peneliti harus meneliti sebuah sains yang ada fundamentalnya, harus dipelajari secara tekun.
Pertanyaan menarik berikutnya disampikan salah satu dosen, terkait apakah masih ada peluang untuk mendalami keilmuan yang masih bersifat ilmu seperti fisika, biologi dan IPTEK.
Hooft menjawab, masih banyak peluang tersebut. Kecuali memang ada beberapa bidang yang terlalu ekstrim untuk diteliti dan ilmu pengetahuan terbatas tidak dapat menembusnya, misalnya suhu matahari yang sangat tinggi, yang sulit dicapai oleh IPTEK.
Kecuali peneliti tanaman apel, bagaimana bisa bebas penyakit, jadi ilmu ada banyak ilmu fisika, biologinya.
Anas menambahkan, kehadiran Prof Hooft memberi semangat untuk membangun riset dari sisi bagaimana memulainya, memberikan informsi dari sisi manajemen, manajemen pengelolaan fasilitas agar para peneliti bisa bekerja dengan baik.
Prof Gerrad't Hooft lahir di Den-Helder, Belanda, seorang profesor fisiko teoritika di Utrech University, Belanda.
Nobel fisika diterimanya dengan pembimbingnya Martinus JG Veltman dengan kontribusi "for elucidating the quantum structure of electroweak interactions". Feru Lantara. (*)
Pewarta: Laily Rahmawati
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
