Logo Header Antaranews Sumbar

Media Dapat Perperan Cegah Radikalisasi

Rabu, 21 September 2016 11:46 WIB
Image Print
Pemimpin Redaksi Jakarta Post, Endy Bayuni. (Antara)

Serpong, Tangerang Selatan, (Antara Sumbar) - Media massa memiliki peran untuk mencegah radikalisasi dan terorisme melalui penyebaran informasi yang berimbang dan independen sehingga memberikan pemahaman utuh kepada masyarakat.

"Pada umumnya media berpandangan perlunya situasi yang aman, melawan terorisme dan radikalisasi, namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana media menyampaikannya," kata Pemimpin Redaksi Jakarta Post Endy Bayuni dalam salah satu sesi Jakarta World Forum for Media Development yang berlangsung di Serpong, Banten, Rabu.

Ia mengatakan dengan pola pemberitaan yang tepat maka bisa mencegah radikalisasi serta penyebaran paham terorisme.

Namun ia mengingatkan, media juga bisa terjebak dalam pemberitaan yang justru menjadi propaganda bagi gerakan radikalisme tersebut.

"Kita hanya menyiapkan berita saat mereka melakukan kejahatan bukan saat mereka menyampaikan propaganda," katanya.

Ia menambahkan,"meski memang kita perlu memberi ruang pada pihak yang tak memiliki peluang untuk menyuarakan pandangannya namun tidak membuatnya menjadi propaganda."
Sementara itu konsultan media asal Mauritania Nasser Weddady mengatakan salah satu pendorong terjadinya radikalisasi adalah karena pemerintah suatu negara gagal berkomunikasi dengan masyarakatnya.

"Kondisi yang ada sekarang sangat kompleks, banyak tekanan terhadap kebebasan dan demokrasi. Dan ini menjadi masalah yang serius, dan ini adalah masalah ideologi" paparnya.

Bagi Nasser, media dapat memainkan peran yang penting dalam penyampaian informasi tersebut sehingga bisa membantu menghambat radikalisasi.

Sedangkan perwakilan organisasi Committe to Protect Journalist (CPJ) dari Amerika Serikat Courtney Radsch mengatakan pemerintah di sejumlah negara seharusnya mendorong keterlibatan media dan kebebasan informasi dalam upaya mereka mencegah radikalisasi.

"Seringkali program pemerintah untuk 'counter' kekerasan dan radikalisasi tidak efektif. Seringkali ide 'counter' teroris diikuti dengan kebijakan sensorship yang justru menghambat keberhasilan program itu," paparnya.

Ia menambahkan,"dalam kondisi ini seharusnya informasi dan media dapat membantu keberhasilan counter terorisme dengan independensi dan menyampaikan atau memberitakan apa yang terjadi sehingga masyarakat memiliki pemahaman yang utuh mengenai bahaya ekstimisme dan radikalisasi."
Menurutnya, seharusnya yang utama dikembangkan mengenai bagaimana memberikan pemahaman pada masyarakat mengenai bahaya terorisme dan radikalisasi disinilah media yang independen dan pemberitaan yang independen bisa memberikan pemahaman pada masyarakat.

Jakarta World Forum for Media Development 2016 berlangsung sejak 20-23 September di Kampus Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Pertemuan internasional itu dihadiri oleh lebih dari 200 praktisi dan akademisi di bidang jurnalistik dari yang berasal dari berbagai negara.

Pertemuan itu membahas sejumlah isu antara lain media dan pembangunan, media dan bisnis, media dan teknologi, media dan masyarakat, ekstrimisme dan propaganda serta isu mengenai kebebasan akses informasi.

Sejumlah pembicara berasal dari organisasi internasional dan asosiasi media massa internasional serta dalam negeri.

Rektor Universitas Multimedia Nusantara Ninok Leksono mengatakan pertemuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik bagi pers nasional maupun perkembangan jurnalistik dari sisi akademis. (*)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026