
Tamatan Pompes Nurul Yaqin Agam Bergelar "Tuanku"
Rabu, 8 Juni 2016 18:21 WIB

Lubuk Basung, (Antara Sumbar) - Pondok Pesantren Salafiah Nurul Yaqin Siti Manggopoh Kabupaten Agam, Sumatera Barat, masih mempertahankan gelar "tuanku" atau panggilan untuk santri laki-laki yang telah menamatkan pendidikan di pondok pesantren itu.
"Gelar tuanku ini diperoleh setelah santri lulus mengikuti beberapa ujian kitab yang diadakan pondok pesantren. Gelar tuanku ini akan dikukuhkan dengan sebuah acara," kata Kepala Pondok Pesantren Salafiah Nurul Yaqin Siti Manggopoh Agam, Damiri Tuanku Malin di Lubuk Basung, Rabu.
Ia menambahkan, dari 30 pondok pesantren di Agam, Pondok Pesantren Salafiah Nurul Yaqin Siti Manggopoh memiliki ciri dan kekhasan tersendiri terutama dalam pengukuhan gelar untuk santri yang tamat diberi gelar tuangku di bidang ilmu Fiqih dan Tahfiz Al-Quran.
Untuk gelar setelah pangilan tuanku tersebut merupakan pemberian dari ninik mamak atau kepala adat santri itu.
Sementara bagi santri yang berasal dari luar Minangkabau, maka gelar santri akan diberi oleh pihak pondok pesantren.
"Kita baru memberikan gelar untuk satu santri atas nama Topik Tuanku Rajo Mudo. Santri ini berasal dari Jawa," tegasnya.
Semenjak 2002, katanya, sebanyak 31 santri yang telah memiliki gelar tuanku.
Sebagian mereka yang tamat, ada mengabdi di pondok pesantren dan sebagian melanjutkan ke perguruan tinggi.
Tamatam pondok pesantren ini dimanfaatkan pengurus masjid dan mushala untuk menjadi imam saat Shalat Tarwih selama Ramadhan 1437 Hijriyah sebanyak delapan orang.
"Ini menjadi suatu penghargaan bagi pondok pesantren dan ini juga sebagai promosi pondok pesantren kepada masyarakat," tegasnya.
Dengan penampilan dan pembacaan ayat nanti, maka pihaknya berharap masyarakat berkeinginan memasukan anak mereka ke pondok pesantren.
Ia menceritakan, pondok pesantren yang didirikan pada 1997 memiliki lahan seluas tiga hektare.
Semua fasilitas pendukung dan asrama untuk santri sudah lengkap. "Bangunan asrama ini merupakan bantuan dari pemerintah pusat pada 2015 dengan dana sekitar Rp2,5 miliar," tambahnya.
Saat ini, jumlah santri di pondok pesantren sebanyak 200 orang yang terdiri dari perempuan sebanyak 60 orang dan laki-laki sebanyak 140 orang. Mereka ini berasal dari kabupaten dan kota di Sumbar dan Riau.
Sementara materi pembelajaran sebanyak 70 persen agama dan 30 persen umum.
"Mereka belajar kitab kuning, wajib shalat berjamaah, kultum setelah shalat dan lainnya," katanya.
Untuk biaya, santri hanya membayar biaya makan, beli buku, listrik dan lainnya. Sementara untuk biaya pembangunan dan biaya sekolah sudah ditanggung oleh Yayasan Tanjung Manggopoh.
Salah seorang santri, Muhammad Fauzan, merasa betah selama di pondok pesantren, karena setiap hari mempelajari Agama Islam dan berkumpul dengan santri lainnya.
"Dalam waktu dekat, saya akan mengikuti ujian untuk mendapatkan gelar tuanku," katanya. (*)
Pewarta: Yusrizal
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
