Logo Header Antaranews Sumbar

Bukittinggi Deflasi 0,34 Persen Mei 2016

Rabu, 1 Juni 2016 21:20 WIB
Image Print

Bukittinggi, (Antara Sumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar), mencatat daerah tersebut mengalami deflasi 0,34 persen pada Mei 2016.

Kepala BPS Bukittinggi, Faizal di Bukittinggi, Rabu, mengatakan deflasi terjadi karena penurunan harga pada dua kelompok pengeluaran yakni kelompok bahan makanan dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan.

"Pada kelompok bahan makanan mengalami penurunan indeks sebesar 2,58 persen dan pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen," sebutnya.

Selanjutnya, kenaikan indeks terjadi pada lima kelompok pengeluaran yaitu kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,59 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,54 persen.

Kemudian kelompok kesehatan sebesar 0,49 persen, kelompok sandang 0,4 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,03 persen.

Selama Mei 2016, bahan makanan yang mengalamai penurunan harga yakni beras, cabai merah, cabai hijau, bawang merah, kentang dan buncis. Sedangkan bahan kebutuhan yang mengalami kenaikan harga yaitu daging sapi, daging ayam, minyak goreng, belut, gula dan jeruk.

"Dari 82 kota indeks harga konsumen (IHK), Bukittinggi berada di urutan ke 20 di Pulau Sumatera dan ke 75 dari seluruh kota yang mengalami deflasi dan inflasi," jelasnya.

Kepala Bagian Perekonomian Pemerintah kota (Pemkot) Bukittinggi, Linda Faroza mengatakan, untuk pengendalian inflasi di daerah tersebut, pemerintah bersama Tim Pengendali Inflasi Daaerah (TPID) akan terus memantau perkembangan harga terutama barang kebutuhan pokok di pasar.

"Pemantauan ke pasar telah dijadwalkan. Pada kesempatan itu akan dipantau ketersediaan pangan dan distribusi sehingga harga tidak naik," lanjutnya.

Ia menyebutkan, bila terjadi kenaikan harga, pemerintah akan langsung turun ke lapangan untuk mengantisipasi agar harga barang tidak naik terlalu tinggi sehingga laju inflasi tetap stabil. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026