
Relawan Bencana Pesisir Selatan Butuh Diklat
Jumat, 6 November 2015 20:49 WIB

Painan, (AntaraSumbar) - Relawan bencana yang tergabung dalam berbagai organisasi sosial di Kabupaten Pesisir Selatan Selatan membutuhkan pendidikan dan pelatihan (Diklat) khusus untuk penanganan dan penanggulangan bencana.
Faisal (42) seorang relawan bencana di Painan, Jumat, mengatakan sebagai masyarakat biasa yang tinggal di daerah rawan bencana, mereka merasa terpanggil hatinya untuk membantu masyarakat sebagai perpanjangan tangan pemerintah kabupaten (pemkab) setempat dalam penanggulangan dan penanganan saat dan sesudah bencana terjadi di tempat tinggalnya.
Namun demikian, akibat minimnya disiplin ilmu pengetahuan tentang penanganan berbagai bencana yang dimilikinya sehingga dirinya belum dapat berbuat banyak untuk membantu masyarakat jika bencana datang.
Sebagai relawan, dia (Faisal) juga membutuhkan kedisiplinan ilmu untuk penanganan bencana di lapangan. Karena tanpa adanya hal tersebut diyakini hasil yang dicapai tidak akan maksimal untuk membantu masyarakat dalam menangani persoalan khususnya saat terjadi bencana alam.
Ia menambahkan meski belum memiliki teknik-teknik tertentu dalam melakukan penanganan bencana, setidaknya dengan kemampuan yang dimiliki, selama ini, relawan di kabupaten itu telah berbuat setiap kali terjadi bencana di daerahnya masing-masing.
"Hingga kini belum semua relawan yang ada di kabupaten ini memiliki teknik-teknik penanganan dan penanggulangan bencana. Namun, selama ini kami sudah berbuat untuk masyarakat sekitar tempat tinggal dalam membantu penanganan saat terjadi bencana, " katanya.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Kedaruratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten setempat Suib Tanjung mengatakan, hingga kini relawan bencana yang tergabung dengan berbagai organisasi yang ada di kabupaten itu berjumlah sekitar 4 ribu orang.
Sekitar 2.730 orang diantaranya tergabung dalam organisasi dibawah naungan pemkab setempat yakni kelompok siaga bencana (KSB). Mereka (relawan) tersebar di 182 nagari (desa adat) pada 15 kecamatan yang dimiliki kabupaten tu.
Sesuai kemampuan ilmu yang dimiliki, selama ini setiap kali terjadi bencana setidaknya para relawan itu sudah membantu masyarakat dalam penanganan bencana di daerahnya masing-masing, baik dalam pendistribusian bantuan seperti bahan makanan, pakaian dan sebagainya maupun upaya penyelamatan korban bencana.
Khusus relawan yang tergabung dalam organisasi sosial masyarakat di bawah pembinaan pemkab, sebagian besar dari jumlah yang ada, hingga kini sudah diberikan pelatihan dan pendidikan dasar oleh pemkab.
"Kita mengakui keberadaan relawan ini sangat penting untuk membantu masyarakat dalam penyelamatan penanganan warga saat dan sesudah terjadi bencana, baik untuk mengevakuasi maupun pendistribusian kebutuhan logistik, " katanya. (*)
Pewarta: Junisman
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
