
Dayung Palinggam Kembali Digelar Dengan Dukungan Perantau
Senin, 26 Oktober 2015 13:51 WIB

Padang, (Antara) - Pacu sampan tradisional yang dikemas dalam Palinggam Dayung Festival akan kembali digelar pada 24 hingga 28 Desember 2015 di aliran sungai Barang Arau, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) dengan dukungan dari perantau.
"Kami melihat, tradisi dayung Palinggam ini merupakan salah satu kegiatan yang bisa menyatukan tali silaturahim masyarakat, tidak saja yang berasal dari sekitar Palinggam, tetapi semua kampung yang berasal dari Padang, bahkan Sumbar. Disamping itu, iven ini juga akan mendorong generasi muda untuk memiliki karakter jujur, seperti yang ditanamkan dalam setiap pertandingan," kata Ketua Panitia Palinggam Dayung Festival 2015, Diki Sarpin yang merupakan salah seorang tokoh Palinggam yang berhasil di perantauan, di Padang, Senin.
Menurutnya, kepanitiaan Palinggam dayung Festival itu telah terbentuk dan dikukuhkan Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah beberapa waktu lalu.
"Panitia yang diikutsertakan sebagian besar adalah generasi muda. Ini salah satu usaha kita untuk memberdayakan generasi muda yang berada di kampung halaman," katanya.
Ia mengatakan, ada sejumlah hal lagi yang dirobah secara total dalam pelaksanaan Palinggam Dayung Festival itu.
"Ada sentimen yang mengatakan bahwa dalam tradisi ini, pendayung dari Palinggam harus selalu menang, kadang dengan cara yang tidak benar. Hal ini dipastikan tidak akan terjadi pada Palinggam Dayung Festival 2015. Kita sudah antisipasi ini sejak awal," katanya.
Menurutnya, antisipasi yang dilakukan dengan menunjuk juri yang independen.
"Kita telah berkoordinasi dengan TNI AL terkait juri ini. Kalau perlu, kita meminta juri yang berasal dari luar Sumbar," katanya.
Sementara itu, salah seorang Ninik Mamak Palinggam, Nazar Tanjuang mengatakan, tradisi itu telah ada sejak tahun 1940-an dan bertahan hingga 2008.
"Kita sayangkan sempat vakum selama beberapa tahun. Namun, sekarang akan dibangkitkan kembali oleh perantau kampung Palinggam," katanya.
Menurutnya, untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut memang membutuhkan dukungan dari semua pihak, tidak saja masyarakat kampung yang berada di sekitar Palinggam, tetapi juga perantau dan pemerintah daerah.
"Kami optimis, setelah ini, dayung palinggam akan bisa kembali digelar setiap tahun dan menjadi salah satu iven pariwisata unggulan Sumbar," katanya.
Sekretaris I panitia Palinggam Dayung Festival 2015, Akhiruddin mengatakan, sejarahnya dayung Palinggam itu berasal dari kebiasaan anak muda Palinggam yang berlomba-lomba saat mendayung sampan saat mencari pasir untuk membangun rumah.
"Hal tersebut kemudian benar-benar dilombakan dengan jumlah pendayung awalnya hanya empat orang. Berlahan tradisi itu berkembang dan pendayung bertambah menjadi enam dan terakhir menjadi 12 orang pendayung," katanya.
Menurutnya, dayung Palinggam itu dahulu adalah salah satu acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat Padang.
Sayangnya, beberapa waktu terakhir, tradisi itu mulai meredup. Pelaksanaannya tidak lagi semeriah pada dekade 70 hingga 90-an. Bahkan, pada 2002, pamor tradisi itu berangsur mulai dikalahkan oleh iven perahu naga(dragon boat), yang kemudian dikenal hingga dunia internasional.
"Sebenarnya, dragon boat itu terinspirasi dari dayung Palinggam juga. Bahkan, pada pelaksanaan pertama kali dragon boat itu dilaksanakan di Batang Arau, tempat dayung palinggam biasa digelar," katanya.
Kemudian menurutnya, dragon boat yang kemudian dialihkan pelaksanaannya ke banjir kanal di kawasan GOR Agus Salim Padang, makin dikenal oleh masyarakat, tidak saja di Sumbar tetapi hingga dunia internasional.
Sementara dayung Palinggam makin terlupakan, bahkan setelah 2008, dayung Palinggam tidak pernah lagi digelar. Salah satunya karena aliran sungai yang semakin dangkal.
"Persoalan pendangkalan ini sudah kita koordinasikan dengan Wali Kota Padang dan mendapat tanggapan positif. Mudah-mudahan menjelang penyelenggaraan acara nanti, pengerukan telah selesai," katanya.
Ia mengatakan, pendaftaran tim yang ikut dalam acara itu akan dibuka pada 1 November sampai 18 Desember.
"Kita membantasi hanya 64 tim dari seluruh Sumbar yang akan bertarung dalam acara kali ini, karena itu tim yang ingin berpartisipasi harus secepatnya mendaftar," katanya.
Setiap tim yang mendaftar akan dikenai insert sebesar Rp250 ribu yang nanti akan dipergunakan untuk minum dan snack tim bersangkutan.
Palinggam Dayung Festival tersebut nantinya akan memperebutkan hadiah puluhan juta berupa sapi, kambing, tabanas, trophy dan sertifikat.
"Mudah-mudahan acara tradisi ini, akan kembali menjadi kebanggan daerah," katanya. (*)
Pewarta: Agung Pambudi
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
