
"Kloning" Populasi Alternatif Upaya Peningkatan Jumlah Badak
Rabu, 23 September 2015 09:55 WIB

Jakarta, (Antara) - Wildlife specialist WWF Indonesia Sunarto mengatakan "kloning" populasi badak menjadi alternatif cara untuk meningkatkan jumlah individu badak yang stagnan di satu lokasi.
"Seperti populasi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) sebenarnya dianggap stagnan atau stabil angkanya. Dengan jumlah saat ini yang mencapai 60 individu, kondisi habitat sudah mendekati daya dukung badak," kata Sunarto di Jakarta, Rabu.
Ada dua hal yang menurut dia dapat diupayakan jika ingin terus meningkatkan jumlah individu badak seperti di Ujung Kulon. Pertama, memperkaya habitat yang ada dengan mengontrol penyebaran tumbuhan langkap yang mengganggu ketersediaan pakan badak jawa sehingga dapat meningkatkan jumlah individu.
Invasi langkap telah mengambil alih sekitar 60 persen habitat dan menempatkan populasi badak jawa dalam wilayah terkotak-kotak dan terisolasi menjadi tiga kantung di Semenanjung Barat Pulau Jawa.
Dan "kloning" populasi, ia mengatakan menjadi cara ke dua untuk tetap bisa menaikkan jumlah individu badak jawa.
"Ini tentu bukan mengkloning dalam arti sebenarnya ya. Tapi memindahkan sejumlah individu tertentu ke lokasi lain sehingga diharapkan populasi baru akan terbentuk seperti di habitat awalnya," ujar Sunarto.
"Kloning" populasi ini, menurut dia, tentu tidak sembarangan dilaksanakan. Perlu dihitung dengan benar berapa dan individu badak mana yang dipindahkan dan mana yang tidak.
"Harus dihitung juga dengan benar berapa yang ditinggalkan di habitat awalnya, supaya tidak membahayakan keberlangsungan habitat tersebut," ujar dia.
Survei habitat untuk kesesuaian biofisik penting guna mengetahui ketersediaan pakan, lokasi kubangan untuk reproduksi, dan kemudahaan jangkauan transportasi guna mempermudah proses pemindahan.
Ia mengatakan peran kamera dan video jebak (camera/video trap) sangat besar dalam memantau, mengumpulkan informasi badak yang tepat untuk dipindahkan.
"Kamera jebak penting datanya diambil secara paralel dan diolah untuk ambil keputusan badak mana yang memang bisa breeding supaya saat berada di habitat kloning dpt berbiak," ujar dia.
Menurut Otoritas Taman Nasional Ujung Kulon pada Juli 2015, survei populasi terakhir badak jawa di taman nasional ada 57 individu, ditambah dua anak badak jawa jantan dan satu betina yang lahir dari induk bernama Siti, Ratu, dan Desy yang tertangkap kamera jebak di tiga wilayah terpisah di Semenanjung Ujung Kulon. (*)
Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
