Logo Header Antaranews Sumbar

Persatuan Ekonomi Pertanian: Swasembada Sapi Tercapai 2024

Selasa, 22 September 2015 18:12 WIB
Image Print

Jakarta, (AntaraSumbar) - Ketua Persatuan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bustanul Arifin memprediksi swasembada daging sapi akan terwujud pada 2024.

Ia mengatakan di sela-sela Seminar Nasional Hari Statistik 2015 dengan tema "Peningkatan Kinerja Pertanian Indonesia Menuju Kedaulatan Pangan", Kantor Pusat Badan Pusat Statistik Jakarta, Selasa, target pemerintah yang mendorong swasembada daging sapi pada 2019 sebesar 746.000 ton akan sulit tercapai.

"Saya khawatir (target swasembada daging sapi pada 2019) tidak tercapai. Saya tidak ingin mengulangi pemerintahan yang lama. Di mana pemerintahan yang lama itu targetkan swasembada sapi itu dengan langsung menekan kuota impor. Lalu apa yang terjadi kita sudah lihat dan sudah saksikan banyak kontroversi," tuturnya.

Ia mengatakan target swasembada 2019 itu sulit terwujud mengingat kondisi di mana saat ini peternak sapi tidak teroganisasi dengan baik, sehingga produksi sapi pun masih dalam skala kecil karena hanya dilakukan peternakan individu atau rumah tangga.

Ia menambahkan dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang ini, pemerintah juga menghadapi tantangan yang mana stabilisasi harga akan sulit tercapai.

Jika demikian keadaannya, maka sulit untuk memenuhi kebutuhan yang makin lama makin meningkat, apalagi swasembada daging sapi 2019.

Ia mengatakan pihaknya telah melakukan analisisa dan simulasi dengan permintaan dan ketersediaan sapi dalam negeri.

"Jadi sampai sekarang kita masih tergantung kepada impor," tuturnya.

Selain itu, ia mengatakan ketersediaan indukan sapi lokal juga masih terbatas.

Ia mengatakan dengan kewenangan untuk mengimpor langsung yang dimiliki Badan Urusan Logistik, stabilisasi harga mungkin dapat tercapai.

Namun, ia mengatakan hal lain yang lebih penting juga adalah mendorong terciptanya swasembada peternak sapi. Dengan kesejahteraan peternak yang baik, maka peternak akan semakin optimal dalam beternak sapi.

"Kalau kita hanya cuma jaga stabilisasi saya kira tanpa adanya kesejahteraan petani apa gunanya. Bagaimana pendapatan peternak itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan, oke semua penting tapi akan lebih dahsyat dampaknya apabila kesejahteraan lebih bagus," ujarnya.

Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin mengatakan peternakan sapi secara wilayah dan kepemilikan belum teroganisasi dengan baik, sehingga belum mampu mengakomodasi kebutuhan dalam negeri secara menyeluruh.

Oleh karena itu, ia mengatakan perlunya penanganan peternakan sapi secara intensf sehingga peternakan sapi tidak hanya dalam jumlah yang sedikit. Peternakan sapi saat ini masih dikelola oleh individu atau rumah tangga yang mana jumlah sapi yang dipelihara berkisar 2-4 ekor.

Kemudian, hampir 80-90 persen peternakan sapi dikuasai oleh rumah tangga atau individu.

"Padahal yang dibutuhkan konsumen adalah yang bisa menyuplai secara banyak dan berkelanjutan. Jadi harus buat korporasi. Pemilik sapi rumahan, misalnya, yang tadinya menjual sapi kalau anaknya disunat, tamat sekolah, ada rekomendasi menjadi korporasi yang bisa menyuplai pasar," ucapnya.

Untuk itu, ia mengatakan perlunya korporasi sehingga peternak kecil dapat mengembangkan usaha peternakannya mengingat ada kebutuhan daging sapi yang harus bisa dipenuhi setiap hari.

Ia mengatakan kebutuhan daging sapi dalam jangka menengah dan panjang sebagian besar disuplai dari Jawa Timur. Sementara, Indonesia juga mempunyai produsen di berbagai daerah seperti Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu, perlu adanya pengoptimalan wilayah peternakan sapi.

Untuk itu, korporasi perlu dioptimalkan ke depan sehingga mendorong produksi yang lebuih meningkat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026