Logo Header Antaranews Sumbar

Polisi: Wartawan Nepal Dikubur Hidup-hidup

Selasa, 8 Januari 2013 06:14 WIB
Image Print

Katmandu, (ANTARA/AFP) - Sekelompok mantan pemberontak Maois ditangkap atas dugaan pembunuhan terhadap seorang wartawan dalam perang saudara di Nepal, dengan salah seorang dari mereka mengakui wartawan itu dikubur hidup-hidup, kata polisi pada Senin. Penangkapan atas lima pria itu, yang penahanannya dilakukan sehari setelah seorang tentara Nepal ditahan di Inggris atas tuduhan penyiksaan, adalah yang pertama kali dilakukan di Nepal untukkejahatan selama konflik satu dasawarsa tersebut, yang berakhir pada 2006. Kelima pria itu, semuanya merupakan perwira menengah, telah didakwa dengan dugaan penculikan dan pembunuhan Dekendra Raj Thapa, seorang reporter radio dan aktivis hak asasi manusia yang meninggal pada tahun 2004. Lachhiram Gharti, salah seorang terdakwa, telah mengaku terlibat dalam aksi pembunuhan, Binod Sharma, seorang inspektur di distrik bagian barat Dailekh. "Dia mengaku kepada kami bahwa mereka (korban) diculik dengan alasan diskusi tentang pasokan air dan dibawa ke sekolah lokal," kata Sharma. "Mereka menyiksa korban dengan berulang kali memukuli korban dan ketika korban jatuh pingsan, korban lalu dibawa ke rumah Gharti," katanya. "Gharti mengatakan kepada kami bahwa ia memberikan segelas air pada korban. Setelah minum itu, korban kembali jatuh pingsan ... sehingga mereka menggali lubang dan mengubur hidup-hidup korban," katanya. Istri Thapa, Laxmi, yang memiliki dua anak perempuan remaja dan seorang anak laki-laki berusia 11 tahun, mengatakan bahwa iahampir menyerah mendapatkan keadilan atas kematian suaminya. "Tapi sekarang terdakwa telah ditangkap dan saya berharap bahwa keadilan akan menang," katanya. Penangkapan itu terjadi setelah hadirnya seorang Kolonel Angkatan Darat Nepal Kumar Lama yang saat ini tengah bertugas di pasukan penjaga perdamaian PBB untuk Sudan Selatan, di Pengadilan Inggris dengan tuduhan dua kasus penyiksaan. Perwira berusia 46 tahun itu dituduh menimbulkan sakit parah atau penderitaan terhadap dua orang ketika ia bertanggung jawab atas barak selama konflik pada tahun 2005. Lebih dari 16 ribu orang tewas dalam perang saudara antara pemberontak Maois dan pasukan pemerintah, dan lebih dari seribu orang masih hilang. Terdapat tuduhan pembunuhan dan penyiksaan di kedua belah pihak, dan kelompok hak asasi manusia mengatakan sedikit yang telah dilakukan untuk membawa keadilan bagi korban dan keluarga mereka. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026