
Pasaman Barat Butuh 60 Ton Es Perhari
Jumat, 26 Juni 2015 15:25 WIB

Simpang Ampek, (Antara) - Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar), butuh pasokan 60 ton es balok perharinya untuk memenuhi kebutuhan pengawet ikan di daerah itu.
"Saat ini produksi pabrik es yang ada jauh dari kebutuhan sebenarnya sehingga banyak nelayan mendatangkan es dari luar daerah,"kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pasaman Barat, Johnniwar di Simpang Ampek, Jumat.
Ia mengatakan berdasarkan data terakhir produksi ikan di Pasaman Barat mencapai 153.408,22 ton per tahun. Tentu sangat membutuhkan es batangan sebagai pengawet.
Untuk memenuhi kebutuhan itu maka nelayan mendatangkan es dari Kota Padang atau berjarak 275 kilometer ke Simpang Ampek, Ibu Kabupaten Pasaman Barat dengan harganya antara Rp20.000- Rp22.000 per batang.
"Kita tentunya berharap ada investor yang ingin menanamkan modal membangun pabrik es sehingga nelayan tidak perlu lagi mendatangkan es dari luar seperti dari Padang, Pariaman dan Madina Sumut," ,"ujarnya.
Jika ada pabrik es maka nelayan akan mudah memperoleh es dengan harga yang tidak setinggi jika didatangkan dari luar daerah.
Ia menyebutkan es batangan yang didatangakan dari luar daerah menimbulkan biaya produksi cukup tinggi sehingga memberatkan nelayan yang masih banyak menyandang status miskin.
Menurutnya Pasaman Barat termasuk pemasok ikan laut terbesar kota dan kabupaten di Sumbar. Selain juga sejumlah pasar di kota-kota di Sumatera, bahkan tujuan ekspor ke Malaysia dan Singapura.
Harga es batangan itu tergolong tinggi dan ini cukup menyulitkan bagi nelayan memasarkan ikannya. Bahkan, cukup banyak ikan nelayan tidak diberi es akibatnya harga mutu rendah sehingga harga jual anjlok.
Ia menjelaskan pihaknya membuka pintu kepada investor yang ingin menanamkan modalnya membangun pabrik es di Pasaman Barat.
Sebab, permintaan es di pangkalan pendaratan ikan (PPI) Air Bangis dan Sasak semakin hari semakin meningkat. Sementara jika didatangkan dari laur daerah biaya nelayan meningkat.
Ia menambahkan Pasaman Barat berada pada posisi strategis berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dengan panjang garis pantai sekitar 152 kilometer.
Pasaman Barat masih butuh pabrik es terutama di daerah Sasak dan Air Bangis serta sentra perikanan lainnya.
Salah seorang nelayan Sasak, Anto membenarkan es batangan sangat dibutuhkan oleh para nelayan di Pasaman Barat.
"Selama ini kami terpaksa tidak memberikan es karena tidak sanggup membelinya dari luar deerah karena tingginya biaya transportasi. Tentunya kualitas dan harga ikan juga akan rendah," ujarnya. (*)
Pewarta: Altas Maulana
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
