
Lebih 50 Polisi Thailand Dihukum Terkait Perdagangan Orang
Kamis, 7 Mei 2015 16:41 WIB

Bangkok, (Antara/Reuters) - Lebih dari 50 polisi Thailand telah dihukum sebagai tersangka terkait jaringan perdagangan orang, kata polisi setelah perdana menteri meminta pembuktian temuan perkemahan korban perdagangan orang di perbatasan dekat Malaysia.
Tiga puluh dua mayat yang diduga sebagai pendatang dari Myanmar dan Bangladesh ditemukan di suatu kuburan massal di Provinsi Songkhla, pekan lalu.
Mayat-mayat yang diduga korban perdagangan orang itu ditemukan di dalam hutan.
"Kami sudah mengirimkan lebih dari 50 petugas polisi untuk menangani kasus ini," kata Kepala Kepolisian Kerajaan Thailand Jenderal Somyot Poompanmuang kepada wartawan menjelang rapat di Bangkok untuk membahas pemberantasan perdagangan orang.
"Pada masa lalu kurang ada upaya untuk menyelesaikan masalah ini. Baru-baru ini saja dilakukan."
Sejumlah pejabat di Thailand mengatakan bahwa perdagangan manusia telah lama marak di tengah kekacauan dan kadang menjadi semakin rumit di tangan pihak berwajib.
Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha memerintahkan pembersihan terhadap para tersangka kasus perdagangan orang di seluruh negeri dalam 10 hari, sementara Perserikatan Bangsa-bangsa menyerukan upaya regional untuk menyelesaikan masalah ini.
Sunai Phasuk seorang Pengamat Hak Asasi Manusia mengatakan kepada Reuters bahwa penggrebekan baru baru ini adalah "usaha pertamakali" yang dilakukan oleh pemerintah Thailand dan ia meminta agar pemerintah melakukan pemeriksaan terhadap petugas militer yang diduga terlibat.
"Kami melihat politisi dan polisi daerah diperiksa tetapi bagaimana dengan tentara? bagaimana dengan polisi hutan yang sudah lama dituduh memberi dukungan pada pelaku perdagangan orang?"
Polisi menangkap empat orang tersangka yaitu tiga warga Thailand dan seorang warga Myanmar atas kecurigaan perdagangan orang. Jaminan penahanan diberikan bagi empat orang tersangka lainnya.
Ribuan pendatang gelap termasuk kaum Muslim Rohingnya dari Myanmar barat dan warga dari Bangladesh melakukan perjalanan menantang maut melalui jalur laut dan jalan darat untuk menghindari sengketa agama dan kesukuan serta berniat mencari pekerjaan keluar negeri.
Mereka kerap diperdagangkan dan dikirim ke hutan untuk meminta tebusan atau diselundupkan ke perbatasan Malaysia. (*)
Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
