
Pengamat: Kemungkinan PPP Pindah Koalisi Menguat

Jakarta, (Antara) - Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor mengatakan Partai Persatuan Pembangunan memiliki kemungkinan paling besar untuk pindah koalisi dibandingkan partai lainnya. "Saat ini mereka sudah dianggap ada di KIH, meskipun perkembangan ke depan bisa berbeda. Namun dibandingkan Golkar dan PAN, PPP yang paling besar kemungkinan bergabung ke KIH," kata Firman Noor dihubungi di Jakarta, Rabu. Firman mengatakan meskipun Ketua Umum PPP versi Muktamar Jakarta Djan Faridz sempat menyatakan KMP tinggal kenangan, bukan berarti mereka akan beralih ke KIH. Pernyataan itu bisa lebih dimaknai bahwa mereka akan mendukung pemerintah. "Saya melihat pernyataan Djan Faridz itu ada dalam konteks DPR tidak perlu terbelah. Saya kira itu juga pernyataan standar bagi KMP yang pasti akan mendukung pemerintah asal kebijakannya prorakyat," tuturnya. Di sisi lain, katanya, konflik internal PPP belum selesai karena masih terus berlanjut ke tingkat banding di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. Kubu Djan Faridz tentu tidak akan tinggal diam, apalagi di pengadilan sebelumnya berada di atas angin. Apalagi, islah antara kubu Djan Faridz dan Romahurmuzyi tampaknya belum bisa terjadi karena belum ada kesepakatan diantara mereka. Tidak ada satu pihak pun yang bersedia mengalah. "Namun, politik itu dinamis. Bisa saja terjadi perubahan. Kalau Suryadharma Ali masih jelas berada di KMP, tetapi Djan Faridz bisa saja berbeda. Sedangkan Romi sudah jelas mendukung KIH," katanya. Sementara itu, konflik yang mendera Partai Golkar juga memungkinkan partai berlambang pohon beringin itu berpaling ke KIH, tetapi kemungkinannya tidak sebesar PPP. "Meskipun Menteri Hukum dan HAM sudah memberi angin kepada kubu Agung Laksono, tetapi kubu Aburizal Bakrie pasti akan melawan. Banyak elit Golkar di kubu Aburizal Bakrie yang memiliki kapabilitas di bidang hukum. Pertarungan di Golkar sepertinya masih akan berlangsung lama," katanya. Sedangkan untuk PAN, Firman menilai meskipun Ketua Umum Zulkifli Hasan, yang menggantikan Hatta Rajasa, kerap mengeluarkan pernyataan yang berbeda dengan KMP, tetapi tampaknya masih memiliki komitmen terhadap koalisi tersebut. "Zulkifli dan Hatta Rajasa itu inisiator PAN untuk bergabung ke KMP. Mereka yang membawa PAN ke KMP. Hanya saja gaya Zulkifli lebih lunak dibandingkan Hatta," pungkasnya. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
