
Siang di Rumah Malam Ngungsi ke Perbukitan

Rumah tak lagi nyaman bagi ribuan warga Kecamatan Sipora Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kabar akan terjadi lagi gempa kuat 8,9 scala richter (SR) dan tsunami memaksa mereka mengungsi tiap malam ke perbukitan. Kengerian membayangkan bencana yang diakibatkan dahsyatnya gempa dan tsunami menghantui pikiran mereka. Perbukitan menjadi pilihan lokasi berlindung yang mereka nilai aman dari tsunami. "Isu akan ada gempa yang lebih kuat dari para ahli yang dimuat media nasional benar-benar menakutkan bagi warga. Mereka tak tenang dan tak bisa tidur nyeyak, hingga memilih mengungsi di malam hari ke bukit," kata Camat Sipora Selatan, Hati Sama Hura. Sebelumnya, Tim 9 yang terdiri dari ahli gempa dan ahli tsunami bentukan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) mengingatkan agar warga Padang, Mentawai, dan pesisir barat Sumatera Barat bersiap menghadapi prediksi gempa Megathrust di Pulau Siberut Mentawai dengan kekuatan gempa bumi yang mencapai 8,9 skala Richter dan dapat menimbukan tsunami. Peringatan ini katanya membuat hampir setiap malam wilayah Kecamatan Sipora Selatan sepi, karena hampir seluruh warganya pergi mengungsi ke bukit. Mereka membaur bersama warga lainnya yang menjadi korban gempa dan tsunami pada Senin (25/10). Dia memperkirakan terdapat sekitar 4.000 orang pengungsi pada malam hari, sementara tempat evakuasi hanya menyediakan 30 tenda, dan bantuan masih minim. Hampir 50 persen dari 8.549 penduduk Sipora Selatan mengungsi. Berdasarkan catatan petugas Posko Tanggap Darurat Sioban-Sipora Selatan, gempa berkekuatan dan tsunami Senin (25/10) kemarin, telah menewaskan 23 penduduk Sipora. Masing-masing di Desa Beriulou sebanyak 5 orang, Desa Masokut 8 orang, Desa Bosua dan Dusun Gobik sebanyak 8 orang. Sementara Korban hilang sebanyak dua orang, dengan kerusakan terparah di Dusun Gobik Desa Bosua, yang hampir seluruh rumah rata dengan tanah. Data secara umum di Mentawai lebih besar lagi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mentawai, hingga Minggu mencatat 449 orang korban meninggal, dan yang hilang 96 orang. Hari ke hari, data ini terus bertambah. Hingga saat ini warga Kecamatan Sipora Selatan masih ada yang mencari saudara mereka yang hilang. Pada siang hari, mereka mendatangi lokasi rumah-rumah mereka yang telah roboh. Mereka mengambil barang-barang tersisa yang masih bisa dimanfaatkan. Menjelang malam, warga beringsut meninggalkan dataran rendah itu menuju perbukitan sambil menjijing dan memikul apa yang bisa dimanfaatkan di pengungsian. Sementara di pengungsian, seperti di sampaikan Farida (30), salah seorang anggota tim Dinas Kesehatan Mentawai yang melakukan pelayanan kesehatan di Desa Bosua mengatakan, di dusun Gobi masih banyak korban yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan secara memadai. Karena keterbatasan obat-obatan dan sarana lainnya, mereka banyak yang berada di tempat pengungsian banyak yang terserang diare dan penyakit kulit, sedangkan yang menderita luka berat terpaksa harus dibawa dengan boat ke Tuapejat untuk mendapatkan pelayanan medis di rumah sakit. (*)
Pewarta: Hadi Wijaya
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
