Logo Header Antaranews Sumbar

Demokrasi Beradab

Senin, 8 Februari 2010 15:14 WIB
Image Print

Naluri kita sebagai bangsa beradab merasa terusik dengan perilaku sekelompok massa yang berdemonstrasi membawa kerbau, dan mensibol presiden pada 28 Januari 2010 lalu. Bukan dalam konteks membela Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menjadi sasaran dari aksi tersebut, namun kecaman demi kecaman pantas diterima oleh mereka yang melaksanakan aksi dengan pola seperti itu. Betapa tidak, setelah 32 tahun bangsa ini terkungkung di bawah kendali rezim otoriter, tiba-tiba 12 tahun seperti itu, bangsa ini seperti bingung dan salah kaprah menerjemahkan kebebasan. Alam kebebasan yang dinikmati saat ini, sepertinya diterjemahkan segelintir orang bahwa mereka bisa berbuat apa saja. Tak sedikit yang terjebak dalam istilah "sudah merdeka, merdeka sekali". Maka pantas kiranya banyak yang mengatakan, bangsa ini seperti bangsa yang tidak jelas mau kemana. Terkait aksi demo dengan membawa kerbau "SiBuYa", tokoh reformasi Amien Rais pun menyampaikan kecamannya. "Itu tindakan immoral," kata Amien di Padang. Amien sang tokoh di balik tumbangnya Soeharto, ternyata juga tidak setuju dengan aksi-aksi seperti itu. Keprihatinan Amien juga menjadi keprihatinan elemen masyarakat lainnya yang menginginkan bangsa ini bisa menjadi lebih masyarakat yang beradab (civil society). Memang bangsa ini sudah sepakat menjalankan demokrasi dalam sistem berbangsa dan bernegara. Demonstrasi merupakan salah satu alat dalam mengekspresikan bahwa demokrasi hidup dan tumbuh subur di tengah-tengah bangsa. Namun pertanyaannya demonstrasi seperti apa? Menghujat ? Mensimbolkan kepala negara dengan hewan pemakan rumput? Apakah ini yang diimpikan sebuah bangsa yang dipuji-puji sebagai bangsa besar dan tumbuh sebagai salah satu negara demokrasi yang hebat di dunia? Inilah yang mesti direnungkan anak-anak bangsa. Kita tidak boleh tercerabut dari akar budaya kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan, dan hormat menghormati. Sebagai bangsa timur yang berbudaya, bangsa ini sangat menghormati pemimpin, tokoh dalam masyarakat, dan para orangtua. Lalu pertanyaannya, kemanakah nilai-nilai itu kini ? Saatnya bangsa ini kembali ke nilai-nilai budayanya. Boleh-boleh saja menyampaikan pendapat. Boleh-boleh saja menyuburkan demokrasi melalui demonstrasi, tapi dengan demonstrasi yang beradab. Berikan pemimpin bangsa ini solusi. Ajak mereka berdialog. Sebab, bangsa ini tidak akan bisa dibangun pemimpin tanpa keterlibatan rakyat. Bangsa ini juga tidak bisa dinilai dan dibangun dalam masa 100 hari pemerintahan. Karena itu, objektivitas dalam memberikan penilaian sangat diperlukan. Kita juga miris dengan perkembangan yang lambat pada bangsa ini. Ketika Cina dan India yang tumbuh dengan pesat, Indonesia masih tertatih-tatih menghadapi perdagangan bebas. Kenapa itu terjadi? Karena pemimpin dan sebagian rakyatnya terlalu sibuk mengurus politik (kekuasaan). Bangsa ini terlalu sibuk dalam urusan jatuh-menjatuhkan. Sepertinya kita keranjingan dengan tradisi "kudeta" dalam proses suksesi di negeri ini. Mulai dari Soekarno, Soeharto, Habibie, hingga Gus Dur, mereka turun bukan melalui proses "konstitusional". Pertanyaannya, apakah kita akan mengulang lembaran sejarah yang kelam? Berapa biaya sosial yang harus ditanggung negeri ini kalau itu kembali terulang. Karena itu, sudah saatnya kita menjadi lebih beradab dalam berdemokrasi. Saatnya, kita memikirkan kepentingan bersama. Kalau terlalu larut dalam pergumulan berebut kekuasaan, bukan tidak mungkin bangsa ini akan pecah chaos. Semoga ini menjadi bahan renungan kita bersama. (*)