
Indonesia Perlu Ekspansi Ekspor ke Brunei

Jakarta, (Antara) - Indonesia dinilai perlu meningkatkan ekspornya ke Brunei terkait dengan diterapkannya masyarakat ekonomi Asean (MEA) pada akhir 2015 dan dalam perdagangan bilateral menunjukan defisit untuk Indonesia. Minister Counsellor pada KBRI Brunei Rudhito Widagdo dalam surat elektroniknya di Jakarta, Rabu mengatakan, nilai perdagangan antara Brunei Darussalam dengan Indonesia dalam lima tahun terakhir (2009-2014) nampak mengalami fluktuasi yang naik turun. "Selama periode tersebut, kondisi nilai perdagangan kedua negara selalu memperlihatkan defisit untuk Indonesia," katanya. Pada 2009, tambahnya, total nilai perdagangan kedua negara mencapai 1.207,3 juta dolar AS, kemudian menurun pada tahun 2010 menjadi 948,2 juta dolar AS dan naik kembali pada tahun 2011 menjadi 1.159,2 juta dolar AS. Penurunan kembali terjadi pada 2012 menjadi 675,6 juta dolar AS dan pada tahun 2013 nilai perdagangan kedua negara kembali meningkat menjadi 863,5 juta dolar AS atau naik 27,8 persen. Menurut dia, kondisi ini nampaknya akan kembali meningkat pada periode 2014 (sampai dengan bulan Agustus), dimana total perdagangannya sudah mencapai 839,9 juta dolar AS. Berdasarkan data perdagangan bilateral itu defisit selalu dialami Indonesia dikarenakan besarnya nilai impor komoditas minyak mentah, yang pada 2014 bahkan sebesar 98,5 persen dari total impor nasional. Sementara itu, nilai ekspor Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 2013 yaitu sebesar 191,9 juta dolar AS, namun turun drastis pada tahun 2014 (sampai Agustus) menjadi 86,6 juta dolar AS yang terutama disebabkan menurunnya beberapa komoditas seperti permesinan & spareparts (suku cadang) transportasi dan produk-produk manufaktur. Adapun komoditi ekspor Indonesia adalah permesinan dan peralatan transportasi, barang-barang manufaktur, makanan dan binatang hidup, bahan-bahan kimia, produk manufaktur lainnya, makanan dan minuman serta tembakau. Oleh karena itu, Rudhito mengatakan, Indonesia perlu ekspansi ekspor ke Brunei terkait penerapan MEA pada akhir tahun ini. Dengan luas wilayah sebesar 5.765 km2 dan jumlah penduduk sekitar 399.800 jiwa, Brunei Darussalam memiliki Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI) tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Singapura. Walaupun demikian, Brunei Darussalam masih tetap dilihat sebagai pasar yang relatif kecil walaupun cukup potensiil dengan mendasarkan pada tingkat GDP sebesar 14,9 milyar dolar AS dan pendapatan per-kapita sebesar 52.989 dolar AS. Dalam kapasitas ini sangatlah wajar apabila Brunei Darussalam ditempatkan sebagai negara terkaya di dunia (rangking ke-9) yang utamanya didukung oleh pertumbuhan industri minyak dan gas bumi; cadangan devisa yang besar; dan tidak memiliki hutang luar negeri, serta tingkat daya beli masyarakatnya yang tinggi dalam memenuhi kebutuhannya. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
