Logo Header Antaranews Sumbar

Diplomat Perlu "Blusukan" untuk Tingkatkan Promosi Indonesia

Selasa, 11 November 2014 13:21 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Mantan Duta Besar RI untuk Republik Sosialis Vietnam Aiyub Mohsin menyatakan, para diplomat Indonesia perlu melaksanakan aksi "blusukan" di wilayah kerjanya dengan kreasi dan inovasi masing-masing agar Indonesia makin dikenal di mancanegara. "Aksi blusukan yang kreatif dan inovatif itu sangat penting, khususnya dalam upaya mempromosikan produk dan jasa Indonesia, menarik investor, dan mendatangkan wisatawan ke Indonesia," kata Aiyub kepada pers di Jakarta, Selasa. Sebelumnya, tidak lama setelah dilantik Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dalam paparannya tentang Rencana Kebijakan Luar Negeri yang akan ditempuh dalam lima tahun ke depan antara lain mewajibkan semua kepala perwakilan dan diplomat Indonesia di luar negeri supaya meniru aksi "blusukan" Presiden Joko Widodo di wilayah kerjanya masing-masing. Aiyub menjelaskan, pada hakekatnya pelaksanaan tugas semacam "blusukan" telah dilakukan oleh para diplomat Indonesia yang bertugas sebagai Kepala Bidang Ekonomi di Perwakilan Indonesia di luar negeri maupun oleh para Kepala Perwakilan (para Duta Besar) di negara-negara akreditasi tertentu serta para Konsul Jenderal di wilayah kerja masing-masing. Namun, menurut mantan diplomat yang pernah bertugas di beberapa negara Asia, Eropa dan Amerika itu, ke depan aksi "blusukan" para diplomat Indonesia perlu dilakukan secara lebih kreatif dan inovatif, sehingga hasilnya diharapkan dapat melebihi cara-cara diplomasi yang dilakukan secara konvensional. Ia mencontohkan pengalamannya saat bertugas sebagai Kepala Sub Bidang yang kemudian menjadi Kepala Bidang Ekonomi di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura dari pertengahan 1985 sampai Oktober 1989. Saat itu ia banyak melakukan "blusukan" berupa pertemuan-pertemuan dengan berbagai kalangan bisnis setempat, termasuk melaksanakan seminar dan pameran bisnis. "Pertemuan-pertemuan tersebut selalu dilanjutkan dengan One-on-One Bussiness Meeting antara pengusaha Indonesia dengan pengusaha Singapura, bahkan juga dengan menemui pimpinan dan anggota organiasi bisnis dan industri setempat," katanya. Hasilnya, menurut dia, sangat menggembirakan. Pada tiga bulan pertama tahun 1989 total perdagangan Indonesia-Singapura hampir mencapai 9 miliar dolar. Indonesia selalu mengalami surplus dan Singapura menjadi negara tujuan ekspor Indonesia terbesar setelah Jepang dan Amerika Serikat. Kegiatan yang sama dilakukannya saat dia menjabat sebagai Kabid Ekonomi di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) New York dari Oktober 1991 sampai Agustus 1996. KJRI New York mempunyai wilayah kerja 15 negara bagian di pantai Timur Amerika Serikat, mulai dari negara bagian Maine, berbatasan dengan Canada sampai dengan South Carolina. Di wilayah kerja itu, selain membina hubungan dan pertemuan rutin dengan Kadin dan World Trade Centre (WTC) setempat, pihaknya juga menghadiri undangan sekolah-sekolah bisnis di negara bagian itu dengan menjadi pembicara pada seminar dan dialog bisnis, bahkan juga menjadi pembicara pada beberapa stasiun televisi lokal. "Alhamdulillah hasilnya perdagangan Indonesia dengan wilayah kerja KJRI New York selalu suplus di pihak Indonesia, bahkan menurut lembaga riset dan konsultan Ernst & Young, hampir setengah investasi AS di Indonesia berasal dari perusahaan yang berdomisilki di New York, New Jersey dan Pennsylvania yang merupakan wilayah Kerja KJRI New York," katanya. Aiyub menambahkan, saat menjabat sebagai Dubes RI untuk Republik Sosialis Vietnam dari Oktober 2000 sampai Desember 2003 aksi "blusukan" juga dilakukan bersama-sama dengan Kabid Ekonomi KBRI setempat. Hasilnya, di akhir tahun 2003 total perdagangan RI-Vietnam melewati angka 1 milyar dollar, yakni ekspor $551.499.000 dan impor $467.208.000. Mengenai investasi dari Vietnam boleh dikatakan tidak ada karena negara itu baru mengembangkan ekonominya sejak tahun 1987. Sebaliknya investasi pengusaha/perusahaan Indonesia relatif besar di Vietnam, yakni di bidang properti (Ciputra Group), semen (PT Semen Gresik), air mineral (PT Sinar Sosro), dan tambang batu bara (PT Vietmindo Energitama). (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026