
Pemrotes Bentrok dengan Polisi di Meksiko

Mexico City, (Antara/Xinhua-OANA) - Orang tua dan pemuda yang marah dan turun ke jalan untuk memprotes penculikan dan pembunuhan massal yang diduga dilakukan pada 43 siswa pada September bentrok dengan polisi anti-huru-hara pada Senin (10/11). Setelah itu pemrotes menguasai bandar udara di Kota Pelancongan Acapulco di Pantai Pasifik Meksiko. Sebanyak 700 pemrotes bentrok dengan polisi yang berusaha mencegah mereka mencapai bandar udara tersebut; pemrotes melempar batu dan benda lain, kata harian La Jornada di jejaringnya. "Tiga polisi dilaporkan cedera, seorang di antara mereka harus menjalani operasi," kata surat kabar tersebut, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi. Setelah sekitar 30 menit perundingan, pihak berwenang mengizinkan peserta pawai untuk melanjutkan aksi mereka ke bandar udara, tempat mereka menghalangi instalasi itu selama tiga jam. Pemrotes menuntut agar para pelaku penculikan dan pembunuhan massal diseret ke pengadilan. Pekan lalu, Jaksa Agung Nasional Meksiko mengatakan dua tersangka dalam kasus tersebut mengaku mereka melakukan pembunuhan dan membakar pelajar yang diculik, sehingga membuat sulit untuk mengabsahkan identitas korban. Para penyidik telah mendapati para pelajar itu diserang oleh polisi kota praja di Kota Iguala, yang seperti Acapulco berada di Negara Bagian Guerrero di Meksiko Selatan, atas perintah Jose Luis Abarca, Wali Kota Iguala. Para pelajar itu diduga sedang dalam perjalanan untuk mengganggu acara yang diselenggarakan oleh istri wali kota tersebut, Maria de los Angeles Pindeda, ketika mereka disergap dan ditembak. Enam orang tewas dalam peristiwa itu. Sisa 43 pelajar dilaporkan diculik lalu diserahkan kepada satu gerombolan lokal, yang memiliki hubungan erat dengan wali kota tersebut. Keluarga dari 43 pelajar yang hilang tiba di Mexico City pada Ahad (9/11), setelah berjalan sejauh 195 kilometer guna menuntut kembalinya para pelajar itu dengan selamat dan menyuarakan ketidak-puasan mereka terhadap penyelidikan yang berjalan lamban. Luasnya kolusi antara pemerintah lokal dan penjara di Guerrero serta kekerasan yang terjadi di Meksiko telah memicu kemarahan luas terhadap Pemerintah Presiden Enrique Pena Nieto. Keluarga pelajar yang hilang tersebut berangkat dari Kota Iguala di Negara Bagian Guerrero di Meksiko Selatan pada 3 November. Mereka memberi nama pawai itu "Gerakan 43X43". "Hari ini kami memenuhi komitmen kami untuk berjalan 195 kilometer guna menuntut pemulangan secara selamat ke-43 pelajar," kata Jose Alvaraz, Juru Bicara Gerakan tersebut. Alcaraz mengatakan tujuan aksi tersebut juga untuk meminta pemerintah melaksanakan tindakan baru guna menjamin keamanan dan menaggulangi kerusuhan di Meksiko. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
