
Air di Botol Kita Mungkin Lebih Tua Daripada Matahari

Washington, (Antara/Xinhua-OANA) - Sebanyak separuh air di Bumi, termasuk yang di dalam botol kita, mungkin lebih tua dibandingkan Sistem Bima Sakti sendiri, demikian kesimpulan satu studi baru pada Kamis (25/9). Studi tersebut, yang disiarkan di jurnal AS "Science", menyampaikan harapan bahwa kehidupan mungkin ada di exoplanet, planet yang mengorbit bintang lain di luar Sistem Tata Surya, sebab semua kehidupan di Bumi tergantung pada air. Air ditemukan di seluruh Sistem Bima Sakti, bukan hanya di Bumi, tapi di bulan dan komet yang mengandung es, dan di lembaga teduh Mercury. Air telah ditemukan di dalam sample mineral dari meteorit, Bulan dan Mars. Namun tidak jelas apakah air dilahirkan bersama Sistem Tata Surya sendiri --di lempengan debu dan tas pembentuk planet yang mengelilingi Matahari muda 4,6 miliar tahun lalu, atau apakah air bahkan ada lebih dulu-- di awan dingin dan molekul kuno yang melahirkan Matahari dan piringan pembentuk planet. Ilse Cleeves dari University of Michigan dan rekannya menciptakan satu model untuk mensimulasikan kemistri yang ada saat Sistem Tata Surya terbentuk dan terpusat pada rasio dua macam perbedaan tipis air: jenis yang umum dan versi yang lebih berat, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat siang. Air dari awan molekul yang menciptakan Sistem Tata Surya memiliki rasio air berat yang lebih tinggi dibandingkan yang ada di Matahari, sebab air terbentuk pada temperatur yang sangat rendah. Saat ini, es di komet dan asteroid, yang memberi "kapsul waktu" alamiah mengenai kondisi selama zaman awal Sistem Tata Surya, juga memiliki rasio air berat yang lebih tinggi dibandingkan yang dimiliki Matahari. Namun mereka mendapati model mereka yang tak memiliki air berat tak bisa mencapai rasi air berat yang ditemukan pada sampel meteorit, air samudra di Bumi dan komet "kapsul waktu". Penelitian lebih lanjut memperlihatkan antara 30 dan 50 persen air di Bumi berasal dari awan molekul dingin. "Jadi benar bahwa air di dalam botol kalian mungkin lebih tua daripada Matahari," kata penulis bersama studi tersebut, Du Fujun dari universitas itu, kepada Xinhua. Mengidentifikasi sumber asli air Bumi adalah kunci untuk memahami bagaimana air mungkin ditemukan di tempat lain, kata para peneliti itu. (*/sun)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
