
Penembak Jitu Tewaskan Dua Karyawan Kontraktor Minyak

Bogota, (Antara/AFP) - Sejumlah penembak jitu ("sniper") yang diduga berasal dari kelompok gerilyawan Tentara Pembebasan Nasional (ELN) membunuh dia orang karyawan kontraktor minyak di Kolombia, demikian pemerintah setempat mengatakan Senin. "Dua warga sipil itu tengah menuju tempat kerja dengan kendaraan. Sejumlah penembak jitu yang bersembunyi di pemukiman pinggir jalan kemudian menembak mereka," demikian keterangan tertulis Kementerian Pertahanan. Para korban adalah karyawan dari Termotecnica Coindustrial, sebuah perusahaan yang dikontrak oleh badan usaha milik negara Ecopetrol. Dua orang korban tewas pada Ahad di kota Teorama--terletak di Provinsi Norte de Santander bagian utara Kolombia--saat memindahkan peralatan berat yang rencananya akan digunakan untuk memeriksa jalur pipa. Wilayah utara Kolombia adalah basis kuat ELN--kelompok gerilyawan terbesar kedua di Kolombia. Sejak 50 tahun lalu, daerah itu dilanda konlik antara kubu pemerintah dengan gerilyawan kiri. "ini adalah aksi kejam yang melanggal hukum kemanusiaan internasional dan norma-norma hak asasi manusia. Aksi ini juga membahayakan kemanan masyarakat secara keseluruhan," demikian kata Kementerian Pertahanan. Selama lima dekade konflik, industri minyak di Kolombia menjadi target dari sebagian besar serangan gerilyawan. Produksi minyak mentah di Kolombia pada 2013 lalu sempat naik 6,6 persen menjadi satu juta barel per hari. Namun angka tersebut kemudian melambat karena aktivitas kelompok gerilyawan, kata Kementerian Energi. Pemerintah Kolombia sendiri saat ini tengah melakukan perundingan damai dengan kelompok gerilyawan terbesar di negara itu, yaitu Pasukan bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC). Sementara ELN pada Juni lalu mengatakan telah mencapai kesepakatan awal dengan pemerintah untuk melakukan perundingan langsung. Konflik bersaudara di Kolombia telah menewaskan setidaknya 220.000 orang dan menyebabkan lima juta orang mengungsi dari rumahnya sejak 1960-an. (*/sun)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
