Logo Header Antaranews Sumbar

Tindakan Politik dan Militer Irak Masih Terganjal

Senin, 7 Juli 2014 19:46 WIB
Image Print

Baghdad, (Antara/AFP) - Pasukan Irak bertempur untuk merebut kembali kawasan yang dikuasai pejuang pada bulan lalu dan politisi masih terbelah, Senin, kendati tekanan mendesak mereka bersatu dan menyetujui kepemimpinan baru. Hampir sebulan setelah gerilyawan pimpinan kelompok sekarang menyebut diri Negara Islam (IS) menguasai bagian utara Irak, menjerumuskan negara itu ke dalam satu di antara kemelut paling buruk selama bertahun-tahun, peluang penyelesaian politik atau militer masih tampak jauh. Pasukan Irak telah berkumpul kembali setelah mereka kocar-kacir dihajar para gerilyawan dan meninggalkan posisi, senjata dan melepas mereka. Para militan menduduki Mosul, kota kedua terbesar Irak dan bergerak maju ke wilayah sekitar 80 kilometer dari Baghdad, ibu kota irak. Pemerintah telah menerima jet-jet tempur dari Rusia dan Iran, intelejen dari Washington dan memberikan bantuan kepada milisi Shiah untuk memukul balik para pejuang IS, kelompok-kelompok lain dan mereka yang setia dengan Saddam Hussein yang sekarang menguasai bagian-bagian dari kawasan itu. Pemerintah telah lebih sepekan berusaha menaklukkan benteng Sunni di Tikrit yang dikuasai para pejuang IS dalam ofensif bulan lalu tetapi sejauh ini gagal mencapai terobosan. Menurut sejumlah pengamat, kekurangan intelejen di kawasan-kawasan Sunni -- akibat tidak percaya kepada penguasa yang dipimpin Syiah di antara minoritas Arab pengikut Sunni -- dan kekurangan pengalaman bertempur telah melumpuhkan pasukan Irak. "Tentara dan polisi tampak sektarian... dan karena itu komunitas Sunni tidak menyediakan dukungan atau, informasi intelejen kepada pasukan keamanan," kata John Drake, seorang analis dari perusahaan keamanan AKE Group. "Kalau Anda tidak punya informasi intelejen yang baik di darat, serangan-serangan Anda tidak tepat, mereka menimbulkan kerusakan parah dan korban jiwa...membuat segalanya lebih buruk," kata Drake. Sementara sebagian besar pengamat berpendapat bahwa Baghdad tak akan jatuh, kekerasan dan pemboman bunuh diri terus berlanjut. Serangan terhadap satu kafe di daerah pengikut Syiah di bagian barat Baghdad pada Ahad, membunuh sedikitnya empat orang dan menecederai 12 orang lainnya, menurut perwira medis dan perwira keamanan. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026