Logo Header Antaranews Sumbar

Dokter: Waspadai Kebocoran Plasma Penderita DBD

Selasa, 10 Juni 2014 14:28 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) Leonard Nainggolan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kebocoran plasma kepada penderita demam berdarah dengue (DBD) yang bisa mengakibatkan kematian. "Masyarakat perlu waspada pada penderita demam berdarah dengue mengalami kebocoran plasma dalam pembuluh darah kapiler yang hanya satu lapis," kata Leonard di Jakarta, Selasa. Dia mengatakan, lapisan pembuluh darah kapiler rentan terbuka lebar akibat racun yang dikeluarkan oleh virus dengue. Virus itu sendiri biasa dibawa oleh perantaraan nyamuk jenis "Aedes Aegypti" atau "Aedes Albopictus". "Jika infeksi racun virus dengue terhadap penderita itu semakin parah, maka pembuluh darah kapiler itu dapat terbuka lebih lebar lagi dan membuat berbagai zat di pembuluh darah keluar. Di antaranya seperti plasma darah yang terdiri dari air, ion, gula dan protein." Leonard mencontohkan, salah satu pertanda yang bisa dilihat dari penderita DBD adalah munculnya bintik-bintik merah atau ruam di bagian kulit. Bahkan bisa lebih parah adalah keluarnya darah mimisan. Petanda itu disebabkan terdapat zat di pembuluh darah yang keluar dari pembuluh kapiler yang terbuka lebar. "Jika sampai tidak ditangani dengan baik, penderita bisa mengalami sindrom yang disebut DSS (dengue shock syndrome). Inilah tahapan kritis paling mengkhawatirkan penderita yang bisa memicu kematian." Spesialis dari RSCM itu menjelaskan kebocoran plasma itu dimungkinkan terjadi karena racun virus dengue. "Sejatinya pembuluh kapiler hanya mampu dilewati zat yang memiliki diameter dua nanometer. Tetapi celah melebar karena infeksi virus dengue itu yang akhirnya membuat plasma yang sebelumnya tidak dapat menembusnya dapat melewati celah tersebut. "Ketika dinding ini melebar maka cairan dapat keluar. Kebocoran plasma ini akan mudah dilihat dari keadaan yang bervariasi seperti lemas berlebihan, tekanan darah turun (hipotensi), ujung tangan dan kaki dingin, kesadaran terganggu, sesak nafas, pendarahan yang spontan, urin yang berkurang dan peningkatan dari denyut nadi." "Pada pemeriksaan laboratorium keadaan kebocoran plasma ini dapat dilihat dari kadar hematokrit (kekentalan darah). Tingginya hematokrit menunjukkan tingginya kebocoran plasma. Kebocoran plasma juga dapat dilihat dengan pemeriksaan foto paru-paru dengan melihat ada tidaknya cairan di dalam paru-paru yang menandakan tingkat parah tidaknya DBD. Pemeriksaan USG juga bisa dilakukan untuk melihat hati dan limpa," kata dia. Leonard mengatakan kebocoran plasma pada demam berdarah hanya dapat diobati dengan pemberian cairan agar hematokrit bisa ditangani. Pemberian cairan yang dianjurkan adalah melalui pembuluh darah seperti dengan infus lantaran pada keadaan kritis itu diperlukan suplai cairan yang agresif. "Suplai cairan juga bisa dengan memberikan air minum sebanyak mungkin kepada penderita selama dia bisa meminumnya dan tidak membahayakannya. Tetapi akan lebih baik jika cairan itu diperkaya dengan unsur elektrolit atau kandungan nutrisi lain," katanya. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026