Logo Header Antaranews Sumbar

Keberadaan Titik Api di Sumsel Perlu Diwaspadai

Senin, 9 Juni 2014 15:34 WIB
Image Print

Palembang, (Antara) - Keberadaan titik api yang terdeteksi oleh satelit "National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA)" serta satelit Modis Terra dan Aqua di Sumatera Selatan dalam beberapa hari terakhir perlu diwaspadai meskipun kondisinya masih cukup aman. Titik api atau "hotspot" yang mulai terdeteksi satelit pemantau tersebut perlu diwaspadai walupun jumlahnya relatif sedikit di bawah sepuluh titik, berfluktuasi, dan tidak berada pada satu titik secara terus menerus dalam waktu lama, kata Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel, Indra Purnama di Palembang, Senin. Dia menjelaskan, dalam kondisi memasuki musim kemarau pada Juni 2014 ini, suhu udara cenderung panas dan mengakibatkan sejumlah daerah yang mulai jarang turun hujan cukup kering sehingga berpotensi timbulnya titik api yang dapat menimbulkan kebakaran hutan dan lahan. Sejumlah daerah perlu mewaspadai potensi titik api yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, dan Kabupaten Muara Enim, katanya. Dia menjelaskan, ancaman titik api perlu diwaspadai sehingga tidak menimbulkan masalah kerusakan hutan, lahan pertanian dan perkebunan, serta bencana kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas penerbangan, kegiatan masyarakat, dan gangguan kesehatan. Dengan kewaspadaan yang tinggi, diharapkan jika terdapat titik api yang berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan bisa diatasi masyarakat dengan cepat, ujar Indra. Sebelumya Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Sumatera Selatan MS Sumarwan mengatakan, memasuki musim kemarau tahun ini, pihaknya telah menyiagakan sekitar 800 relawan guna mengantisipasi terjadinya bencana yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Walaupun akhir-akhir ini jumlah titik api masih tergolong sedikit dan belum berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, namun pihaknya bersama instansi terkait terus siaga pada daerah yang cukup rawan timbulnya bencana dampak musim kemarau itu, kata Sumarwan. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026