Padang (ANTARA) - PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Barat menghadiri kegiatan Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-41 Fakultas Teknik Universitas Andalas yang digelar di _Convention Hall_ Universitas Andalas, Selasa (19/5). Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan sektor ketenagalistrikan dalam mendukung ketahanan energi serta percepatan transisi energi nasional.
Kegiatan Dies Natalis ke-41 FT UNAND ini turut dihadiri oleh akademisi, mahasiswa, praktisi energi, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Dalam kesempatan tersebut, General Manager PLN UID Sumbar, Ajrun Karim, mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan orasi ilmiah terkait tantangan dan masa depan energi di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat. Dalam paparannya, Ajrun menyampaikan bahwa sektor energi saat ini dihadapkan pada tiga tantangan utama, yaitu memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi, menjaga keberlangsungan transisi energi, serta memastikan energi dapat dinikmati secara merata dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat ( _affordability_ ).
“Energi tidak hanya soal teknologi, tetapi bagaimana listrik dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat,” ujar Ajrun Karim dalam orasinya.
Ajrun juga menjelaskan bahwa Sumatera Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), khususnya dari sumber daya air. Saat ini Sumatera Barat memiliki tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yakni PLTA Singkarak, PLTA Maninjau, dan PLTA Batang Agam. Selain itu, terdapat sekitar 50 potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang masih dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan energi daerah.
Dalam orasi tersebut, Ajrun menyampaikan bahwa transisi energi telah menjadi agenda utama dunia dalam menekan dampak pemanasan global dan perubahan iklim. Ia menyoroti bahwa hingga saat ini bauran energi nasional masih didominasi energi fosil, sehingga diperlukan langkah luar biasa untuk mempercepat pengembangan energi bersih dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan prioritas PLN yang terus mendorong pengembangan teknologi kelistrikan berbasis energi baru dan terbarukan.
Ajrun juga menekankan bahwa keberhasilan transisi energi memerlukan tiga faktor utama, yakni kepemimpinan, teknologi, dan kebijakan yang mendukung pengembangan EBT. Menurutnya, kolaborasi antara industri, pemerintah, dan akademisi menjadi kunci penting dalam menghadirkan inovasi dan solusi energi berkelanjutan di masa depan.
Ia berharap perguruan tinggi, khususnya Universitas Andalas, dapat terus berperan aktif dalam mendukung pengembangan teknologi energi bersih, riset ketenagalistrikan, serta penguatan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan transisi energi nasional. Dukungan akademisi dinilai menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan sistem energi yang lebih ramah lingkungan, berkeadilan, dan berkelanjutan di Sumatera Barat maupun Indonesia.
Selain pengembangan energi air dan PLTS, PLN UID Sumbar juga terus mengembangkan sistem kelistrikan berbasis digital dan energi bersih di wilayah kepulauan seperti Mentawai melalui pengembangan PLTS dan sistem kelistrikan terisolasi ( _isolated system_ ). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya PLN dalam menghadirkan energi yang andal, ramah lingkungan, dan menjangkau seluruh masyarakat hingga daerah terpencil.
Kehadiran PLN UID Sumbar dalam kegiatan tersebut menjadi wujud komitmen PLN dalam memperkuat sinergi dengan dunia akademik guna mendukung pengembangan inovasi, riset, dan sumber daya manusia di sektor ketenagalistrikan. PLN meyakini kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi langkah strategis dalam menghadirkan solusi energi yang berkelanjutan, berkeadilan, dan mampu menjawab tantangan masa depan.
“Listrik tidak hanya sekadar menyalakan lampu, tetapi juga menyalakan peradaban ” tutup Ajrun Karim.
Narahubung
Manager Komunikasi & TJSL
PT PLN (Persero) UID Sumatera Barat
Yesi Yuliani