Padang (ANTARA) - Sebanyak 25 peserta lokakarya sastra yang digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat akan diminta membuat karya novel dengan tema Tanah Suaka untuk mendorong eksplorasi kreatif yang berakar pada kekayaan alam dan dinamika sosial budaya masyarakat.

Kepala Taman Budaya Sumatera Barat M.Devid mengatakan, tema Tanah Suaka menjadi pijakan utama program Taman Budaya tahun 2026 dengan memaknai tanah bukan sekadar ruang fisik, tetapi sebagai simbol negeri, identitas, dan sumber kehidupan yang menyimpan ingatan kolektif serta kearifan lokal. 

"Suaka dipahami sebagai ruang perlindungan bagi sesuatu yang bernilai, baik dalam konteks alam, lingkungan, maupun sosial budaya, agar tetap lestari dan berkelanjutan, termasuk menjaga tradisi, nilai, dan praktik kebudayaan dari ancaman perubahan zaman," kata M Devid saat pembukaan lokakarya sastra di Padang, Selasa.

Menurutnya, sesuai dengan tema, program kegiatan diarahkan untuk mendorong eksplorasi kreatif yang berakar pada kekayaan alam dan dinamika sosial budaya masyarakat. 

Seni dan budaya diharapkan menjadi medium refleksi hubungan manusia dengan lingkungannya sekaligus sarana membangun kesadaran kolektif dalam menjaga bumi dan warisan budaya. 

Dengan semangat kolaborasi dan kebebasan berekspresi, Taman Budaya Sumatera Barat berupaya menghadirkan ruang yang memperkuat ekosistem kebudayaan, sehingga seni dapat berfungsi sebagai Suaka bagi nilai, pengetahuan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

"Melalui workshop ini, para peserta diharapkan mampu mengembangkan kemampuan menulis secara lebih inovatif, tanpa kehilangan akar budaya dan idealisme berkesenian," katanya. 

Pihaknya ingin karya sastra yang lahir tidak hanya kuat secara estetika, tetapi juga kaya nilai, relevan dengan perkembangan zaman, dan memiliki daya jangkau yang lebih luas. 

Hal itu menurutnya sejalan dengan program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya yang dilaksanakan Taman Budaya Sumatera Barat dengan dukungan dana DAK Nofisik BOP MTB dari Kementerian Kebudayaan RI.

Devid menambahkan, egiatan itu juga diarahkan untuk membangun ekosistem sastra yang sehat, yang mempertemukan penulis, pembaca, dan penerbit dalam jejaring yang saling menguatkan. 

Seorang peserta dari Padang Panjang, Jefri Prawinata, menyampaikan motivasinya mengikuti lokakarya itu adalah untuk mendalami sisi kepenulisan, seperti bagian karakter.

Selain itu, Jefri juga berniat untuk mengembangkan dunia kesusastraan di Sumatera Barat yang menurutnya masih awam di kalangan anak muda pada generasinya.

Dengan lokakarya ini, Jefri berharap dapat mendukung anak-anak muda untuk berprestasi, berkreasi, dan berimajinasi khususnya dalam bidang sastra dan kepenulisan. (*)